The Morning Show Season 4: Good Morning with a Twist!
Ini series yang selalu saya tunggu dari empat tahun belakangan. Yesss, The Morning Show, serial drama newsroom paling tajam dari Apple TV+. Season keempatnya mulai tayang dua minggu lalu (episode baru hadir setiap hari Rabu), dan meski saya baru menuntaskan dua episode pertama, intrik dan plot twist-nya mulai terasa pelan-pelan, seperti ledakan yang siap meletup.
Oleh: DJOKO ADNAN
Premis & Setting Baru

Season 4 dimulai dua tahun setelah akhir Season 3, setelah merger antara UBA dan NBN menjadi jaringan baru bernama UBN.
Alex Levy (Jennifer Aniston) dan Stella Bak (Greta Lee) kini memegang posisi kepemimpinan di jaringan baru ini, sementara muncul karakter baru yang membawa konflik dan intrik baru, seperti Celine Dumont (Marion Cotillard).
Beberapa tema baru yang mulai diperkenalkan di series ini ada 2, pertama, Penggunaan AI dan deepfake dalam dunia penyiaran, yang menyentuh isu etika teknologi. Yang kedua, ketegangan tentang kekuasaan, kompromi korporat, dan dilema moral bagi karakter yang dulu “pendukung perubahan” kini menjadi bagian dari struktur kekuasaan itu sendiri.
Dengan latar baru dan dinamika yang agak “terbalik” (dulu karakter berjuang melawan kekuasaan, sekarang beberapa karakter berada di puncak dan harus mempertahankan kekuasaan itu), series ini punya ruang besar untuk mengeksplor konflik internal dan eksternal.
Kelebihan & Keunggulan Hingga Episode 2
Berikut poin-poin yang menurut saya memperkuat harapan agar Season 4 tidak kalah seru dibanding musim-musim sebelumnya:
Pemain dan Bakat Besar
Kehadiran nama-nama seperti Marion Cotillard dan Jeremy Irons memberikan bobot tambahan, menambah daya tarik dan ketegangan pada konflik tingkat atas.
Intrik dan Konflik Dramatis yang Kaya
Bahkan di episode-episode awal, sudah muncul konflik internal antara tokoh (soal kekuasaan, pengaruh, loyalitas), serta konflik eksternal (AI, tekanan korporat). Ini menandakan bahwa cerita tidak akan lambat bergerak.
Eksperimen Naratif & Tema Kontemporer
Tema deepfake, AI, dan dilema media modern membawa rasa segar — kalau dieksekusi dengan baik — dibanding hanya drama antar karakter saja. Misalnya, karakter Stella memimpin proyek AI yang bisa menerjemahkan suara penyiar ke banyak bahasa, dan eksposur bahwa suara bisa “dipalsukan” via teknologi.
Ketegangan & Build-up yang Menjanjikan
Dilihat dari review kritis, ada kesan bahwa meskipun season ini mungkin “berlebihan” dan kadang tak logis, aura ketegangan dan intrik tetap ada — yang bisa menjaga minat penonton.
Catatan Season 4
Akan tetapi, ada juga beberapa catatan yang patut diwaspadai agar antisipasi kita tidak terlalu optimis.
Beberapa kritikus menyebut Season 4 terasa “berlebihan” atau tidak sepadan dalam konsistensi cerita. Ada yang berpendapat bahwa karakter seperti Bradley (Witherspoon) mulai kehilangan “kejelasan motivasi”, agak sulit diikuti sisi emosionalnya. Karena banyak tema dan subplot yang dilempar ke dalam musim ini (AI, konflik perusahaan, skandal pribadi, hubungan antar karakter), risiko cerita terasa padat dan kurang fokus ada di depan mata. Beberapa scene atau alur logika dikritik sebagai melemahkan kredibilitas , misalnya penggabungan konflik teknologi tinggi dan drama pribadi yang kadang terasa dipaksakan.
Masih Punya Potensi
Secara keseluruhan, sampai episode 2, saya percaya bahwa Season 4 dari The Morning Show masih punya potensi besar untuk tidak kalah seru dibanding musim-musim sebelumnya. Meski ada risiko bahwa elemen cerita bisa menjadi terlalu ramai atau kehilangan fokus, namun dengan kekuatan pemeran, tema kontemporer yang relevan, dan konflik baru yang berhasil ditanamkan sejak awal, season ini punya pijakan kuat untuk menyajikan drama yang menarik.
Sampai episode 2 ini, The Morning Show season 4 sudah jelas “panas” dengan tema politik media, intrik kekuasaan, dan ancaman teknologi baru — sama intensnya dengan musim sebelumnya.
Jadi, yup , saya sangat menantikan kelanjutannya, dan saya yakin Anda juga tidak akan kecewa setelah menyaksikan dua episode pertama!


