Devaluasi Musik Global dan Upaya Penormalan di Era Teknologi
Sekarang, kita mendengarkan musik lebih sering dari sebelumnya. Tapi lucunya, nilai musik nggak pernah serendah sekarang. Di tengah banjir 100.000 lagu baru yang diunggah per hari, nilai satu kali stream lagu hanya setara remah digital. Inilah paradoks menyakitkan. Semakin mudah diakses, semakin cepat musik kehilangan nyawanya.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Kita hidup di masa ketika akses ke musik begitu melimpah. Namun, pada saat yang sama, nilai emosional dan ekonominya terasa menurun. Inilah yang disebut banyak pengamat sebagai devaluasi musik.
Konsep devaluasi musik sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum Spotify lahir, pada akhir abad ke-19, komposer legendaris John Philip Sousa sudah mengkritik keras gramofon dan rekaman massal. Sousa khawatir mesin rekaman akan membuat orang berhenti bermain musik, mengubahnya dari partisipasi aktif menjadi konsumsi pasif. Sousa, pada saat itu,khawatir rekaman akan “mendevaluasi musik.”
Nah, istilah ini kembali mencuat dan menjadi perdebatan sengit pada era digital. Salah satu yang mempopulerkannya adalah jurnalis Craig Havighurst, Direktur Editorial WMOT Roots Radio. Melalui esai kritisnya pada tahun 2015, Craig menyoroti bagaimana pembajakan dan kemudian model streaming telah menenggelamkan harga ekonomi sebuah lagu. Havighurst dan banyak pengamat lain melihat ada pergeseran fundamental: dari musik sebagai karya (seni) menjadi musik sebagai layanan (komoditas).
Dari Piringan ke Playlist: Mengutamakan Akses Murah
Revolusi digital pernah membawa kita ke masa gelap pembajakan. Setelahnya, datanglah platform streaming sebagai “penyelamat”. Layanan seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer menawarkan solusi legal untuk mengakses jutaan lagu dengan harga terjangkau.
Awalnya, solusi ini terasa ajaib. Namun, perlahan, sistem ini membentuk kebiasaan baru tanpa kita sadari. Sistem ini membuat kita jadi berhenti membeli musik, dan mulai mengutamaakan akses murah daripada kepemilikan karya.
Model streaming membagi pendapatan artis berdasarkan jumlah total putaran secara global (pro-rata). Uang langganan yang kamu bayar nggak otomatis masuk ke musisi yang kamu dengar, melainkan dilebur ke “kolam besar” industri untuk dibagikan sesuai popularitas global.
Rata-rata, satu putaran lagu di Spotify dihargai sekitar $0,003 hingga $0,005 (data 2024,RED.). Angka ini sangat kecil.
Musisi butuh ratusan ribu stream hanya untuk menghasilkan upah harian yang layak. Parlemen Inggris, dalam laporan resminya tahun 2021, bahkan menyebut sistem ini “nggak adil dan nggak berkelanjutan,” menyerukan perlunya reset total dalam ekonomi musik digital.

Ledakan Lagu yang Bikin Musik jadi Nggak Istimewa
Kemudahan teknologi juga memicu banjir konten yang ekstrem. Menurut “Luminate’s 2024 Year-End Music Report”, ada 202 juta track terpisah tersedia di layanan streaming, dengan rata-rata 99.000 lagu baru diunggah setiap hari. Ironisnya, hampir separuh dari jumlah itu (sekitar 93,2 juta track) hanya diputar nggak lebih dari 10 kali dalam setahun.
Kelebihan pasokan ini membuat lagu baru jadi nggak istimewa. Perilaku pendengar pun berubah: mereka akan melewatkan sebuah lagu jika nggak dirasa menarik dalam 20–30 detik.
Apa imbasnya di industri?
Lagu-lagu jadi dibuat semakin pendek. Refrain dipaksa hadir di awal, mengubah musik dari sebuah perjalanan naratif menjadi makanan cepat saji yang bisa terlupakan.
Contoh konkretnya bisa terlihat dari durasi rata-rata lagu yang masuk tangga lagu Spotify. Sekarang, sekitar 3 menit, 30 detik lebih pendek dari lagu di tahun 2019 (menurut laporan Chartmetric).
Produser musik kini secara terang-terangan menerapkan struktur “Hook-First“. Analisis industri menunjukkan bahwa lagu dirancang untuk menarik pendengar sesegera mungkin dan tidak menyisakan “ruang kosong”. Ini terjadi karena perhatian konsumen sangat singkat.
Jika dulu album adalah masterpiece yang butuh kesabaran, kini single ibarat klip singkat yang dirancang untuk mengatasi rentang perhatian yang makin minim.
ANCAMAN KECERDASAN BUATAN
Di tengah semua perubahan itu, datanglah gelombang disruptif baru: kecerdasan buatan (AI).
Pada 2023, lagu fiktif “Heart on My Sleeve” yang meniru suara Drake dan The Weeknd viral, menunjukkan kemampuan teknologi untuk meniru musisi.
Namun, bahaya terbesarnya bersifat ekonomi. Sebuah studi oleh CISAC memprediksi bahwa, 24% pendapatan kreator musik bisa hilang karena AI pada tahun 2028. Angka ini setara dengan kerugian kumulatif sebesar Rp 190 Triliun (berdasarkan kurs rata-rata €10 miliar) untuk sektor musik dalam kurun waktu lima tahun.
AI bukan penyebab tunggal devaluasi, tapi ikut serta mempercepat prosesnya. Ia membuat musik lebih murah, lebih cepat, dan pada akhirnya, lebih seragam. Jika musik bisa diproduksi massal tanpa sentuhan jiwa, lantas apa yang tersisa untuk disebut “bernilai”?
UPAYA NORMALISASI NILAI
Setiap krisis selalu melahirkan inovasi. Industri kini bergerak untuk mengatasi sistem pro-rata yang nggak adil.
Di Prancis, Universal Music Group (UMG) dan Deezer meluncurkan Artist-Centric Model pada 2023. Model ini adalah reset terhadap sistem pro-rata yang usang. Prinsipnya sederhana: nggak semua “suara” pantas dibayar sama. Royalti ditingkatkan untuk lagu-lagu yang benar-benar dipilih oleh pendengar (intentional streaming), sementara konten noise (seperti suara hujan yang diunggah hanya untuk mengumpulkan stream) dihapus dari perhitungan.
Selain itu, SoundCloud melangkah lebih jauh dengan menguji skema Fan-Powered Royalties (FPR), di mana uang langganan bulanan yang dibayarkan setiap pengguna hanya didistribusikan kepada artis yang secara spesifik mereka dengarkan, menciptakan ikatan finansial yang lebih langsung antara penggemar dan kreator.
Dari sisi regulasi, terjadi pergerakan besar untuk mengepung ancaman AI dan menuntut transparansi. Uni Eropa telah mengesahkan Undang-Undang AI (EU AI Act) pada tahun 2024, sebuah regulasi pertama di dunia yang mewajibkan pengembang AI untuk mempublikasikan ringkasan data berhak cipta yang digunakan untuk pelatihan algoritma, sekaligus menghormati penolakan (opt-out) dari pemilik karya manusia.
Sementara itu, di Inggris, meskipun pemerintah memutuskan untuk tidak mengadopsi sistem royalti langsung (equitable remuneration), untuk streaming, mereka tetap mendorong solusi yang dipimpin oleh industri. Seperti peningkatan transparansi kontrak, sebagai upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan kreator.
MENGEMBALIKAN ARTI NILAI
Yang jelas, devaluasi musik sebenarnya bukan hanya soal uang. Tapi juga tentang bagaimana kita, sebagai pendengar, memaknai karya yang kita konsumsi. Jika kita hanya mendengar musik sebagai latar, bukan sebagai pengalaman yang fokus, maka nilai yang hilang bukan cuma bagi artis, tapi juga bagi kita sendiri.
Nilai musik tidak akan pernah kembali lewat teknologi semata. Ia kembali lewat sikap. Bagaimana kita mendengarkan dengan niat, membeli rilisan fisik, mendatangi konser, atau sekadar menekan “save” di lagu yang kita sukai sebagai bentuk apresiasi.
Karena di balik satu lagu yang kita dengarkan malam ini, ada seseorang yang menulis liriknya hingga larut malam, seorang produser yang memikirkan hasil rekaman yang pas selama berhari-hari, dan musisi yang berharap karyanya didengar bukan hanya untuk menemani, tapi untuk dipahami.
Mungkin, di tengah dunia yang serba instan, jkita malah bisa menemukan nilai musik yang sejati: sebagai sebuah karya jiwa yang spesial dan personal. (*)


