Tame Impala — Deadbeat : Menari di Tengah Kelelahan Sebagai Orang Tua
Dulu ia membuat kita melayang, kini ia hanya ingin tetap waras , jujur dan tetap groovy.
Oleh: DJOKO ADNAN
Dulu, Kevin Parker terdengar seperti pria yang tersesat di dimensi suara: psikedelik, berlapis, dan selalu sedikit mabuk oleh efek reverb.
Sekarang? Dia terdengar seperti seseorang yang mencoba menari di tengah tagihan listrik dan jadwal daycare.
Deadbeat, album kelimanya, yang baru dirilis lewat Columbia Records bulan ini, adalah pengingat bahwa bahkan jenius musik pun bisa tumbuh, capek, dan kadang… membosankan , namun dalam cara yang justru paling manusiawi.
“Tame Impala bukan lagi pelarian dari realitas — tapi cara Kevin Parker berdamai dengan realitas itu sendiri.”
Parker yang dulu membangun dunia mimpi dari delay gitar dan falsetto melayang kini memilih bicara tentang kelelahan, kebingungan, dan gangguan telinga yang nggak kunjung sembuh. Dan entah kenapa, itu terasa lebih jujur daripada semua kilauan lampu disko yang pernah ia nyalakan.
Beat, Burnout, dan Bush Doof
Inspirasi utama Deadbeat datang dari fenomena “bush doof”, pesta rave di tengah semak-semak Australia, tempat orang-orang menari sampai subuh dengan bass yang mengguncang perut.
Tapi Parker bukan lagi anak muda yang bisa berjoget sampai pagi. Ia sekarang ayah, produser, dan manusia yang mendengarkan tinnitus lebih sering daripada tawa teman.

Album ini seperti doof versi domestik , lampu neon diganti lampu tidur. Dentuman disko diganti bunyi mesin cuci. Tapi justru di situ Deadbeat menemukan nyawanya: sebuah rave untuk jiwa lelah yang masih berusaha bersinar.
Kelelahan itu nyata — tapi juga indah dalam ketulusannya.
Alih-alih mengejar suara sempurna, Parker kali ini sengaja membiarkan rekamannya bernafas.
Ada napas, ada batuk kecil, ada suara pintu studio terbuka di tengah take. Semuanya dibiarkan, karena dia ingin menunjukkan bahwa hidup dan musik nggak harus rapih untuk bisa berarti.
“Loser” dan “End of Summer” adalah bukti paling jelas. Kedua lagu ini seolah belum selesai, tapi justru terasa hidup karena ketidaksempurnaannya.
Sementara “Dracula” terdengar seperti surat pengakuan , atau mungkin permintaan maaf , dari seseorang yang sadar ia sudah terlalu lama jadi karakter ciptaannya sendiri.Dan hasilnya: Deadbeat terasa seperti seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura kuat.

Kevin Parker, si Deadbeat yang Akhirnya Jujur
Mungkin inilah momen ketika Kevin Parker berhenti jadi “dewa psikedelia” dan mulai jadi manusia lagi.
Album ini penuh jejak kelelahan, tapi bukan keputusasaan. Lebih seperti napas panjang setelah maraton panjang karier , sejenak menatap ke belakang dan sadar: semua ini melelahkan, tapi layak.
Album ini penuh momen kecil, fragmen vokal, entakan drum yang terlalu jauh di mix, dan synth yang nyaris salah nada. Semua jadi bagian dari kejujuran Parker.
Ia bukan lagi bicara soal ilusi atau cinta kosmik, tapi tentang hal yang jauh lebih sederhana: bertahan hidup.
Toh, Kevin Parker nggak kehilangan sentuhan magisnya . Dia cuma mengubah arah cahaya. Dari ilusi kosmik menuju kehidupan nyata yang tak kalah aneh dan intens.
Dan di tengah dunia musik yang makin mulus dan seragam, Deadbeat berdiri sebagai bukti bahwa kadang, hal paling berani yang bisa dilakukan seorang seniman adalah terdengar… lelah.
“It’s not about the drop anymore. It’s about the doubt.”
Rating: 8/10

