TRANSISI: Saat Trio Garut Menolak Diam

Ada momen dalam perjalanan sebuah band saat mereka berhenti hanya ingin terdengar keras dan mulai ingin terdengar benar. Sekarang, Voice of Baceprot (VoB) berada di titik itu. Lewat EP terbaru mereka, TRANSISI, trio metal asal Garut ini tidak hanya berteriak, mereka berbicara dengan presisi, empati, dan berani.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Dirilis pada Mei 2025, TRANSISI adalah pernyataan paling jelas dari evolusi VoB sejauh ini. EP ini menandai babak baru dalam perjalanan mereka yang berawal dari ruang latihan sempit di Garut hingga menuju panggung-panggung Eropa dan sorotan media global. Namun, alih-alih larut dalam gemerlap ketenaran, mereka justru semakin tajam dalam menyuarakan yang tak bersuara: petani, perempuan, bumi, dan anak muda yang dikhianati janji-janji pembangunan.

EP ini dibuka dengan Mighty Island, sebuah teriakan untuk tanah dan identitas. Riff-nya langsung menghentak, dan dalam sekejap, kita tahu: ini bukan VoB yang sama seperti lima tahun lalu. Mereka lebih matang, tapi tidak kehilangan bara. Di lagu ini, isu agraria dibungkus dalam distorsi dan dentuman drum yang terasa seperti marching band pemberontakan.

Lalu datang Renegade Sheep, lagu yang menegaskan bahwa mereka masih anak-anak pembangkang dari Garut yang menolak dijinakkan oleh sistem. Ada semacam kemarahan yang sudah melewati titik ledak: bukan lagi tantrum, tapi diagnosis. Marsya, sang vokalis/gitaris, tak hanya menyanyi. Ia menggugat! Di tengah breakdown lagu, terdengar seolah seluruh dunia sedang ditimbang dalam neraca moral.

Put The Gun Down membawa kita ke wilayah yang lebih gelap. Sebuah dunia pasca-trauma. Uniknya, lagu ini tidak meledak-ledak. Justru lebih tenang. Tapi di situlah kekuatannya. Ini semacam doa yang ditulis dari reruntuhan. Pesannya jelas: tidak semua yang hancur harus dibalas dengan kekerasan. Dalam dunia di mana amarah menjadi mata uang utama, VoB memilih jalan yang sulit: meredam sambil merenung.

Madness of The Present Century terasa seperti editorial dalam bentuk musik. Liriknya menggelisahkan, riff-nya seperti alarm yang tak pernah berhenti berbunyi. Mereka bicara tentang politik, ketamakan, dan absurditas modern dengan nada muak tapi juga bijak. Bass Widi mengisi ruang-ruang hampa dengan nada-nada yang terasa seperti protes diam. Sitti, di balik drum, tetap menjadi kekuatan alam yang tak bisa dihentikan.

Di The Other Side of Metalism, VoB mengambil risiko artistik terbesar mereka di EP ini. Lagu ini lebih tenang, hampir meditatif, dengan layer gitar yang bergema seperti mantra. Di sini, metal tidak hanya keras, tapi juga menjadi sarana introspeksi. Lagu ini bertanya: ketika semua sudah dibakar dan dibongkar, apa yang tersisa dari kita sebagai manusia?

Dan akhirnya, Rumah Tanah Tidak Dijual. Judul yang seperti ditulis dengan darah dan tekad. Lagu ini adalah elegi, bukan eulogi. Ia tidak meratapi kekalahan, tapi menolak menyerah. Vokal Marsya seperti jeritan ibu-ibu di pinggir sawah, yang menolak diusir demi megaproyek. Tidak ada metafora yang dibutuhkan. Lagu ini adalah kebenaran telanjang.

Secara musikal, TRANSISI adalah bukti bahwa VoB sudah tidak lagi bermain di liga lokal. Mereka bisa sejajar dengan siapa pun, dari Gojira hingga System of a Down. Tapi ada satu kelebihan VoB dibandingkan band-band tadi: mereka membawa perspektif dari selokan yang nyata, bukan dari kafe-kafe berpendingin.

TRANSISI bukan hanya album protes. Ini adalah album pemulihan. Dari luka kolonialisme ekonomi, dari trauma sosial. Dari pembungkaman struktural. VoB memang tidak menawarkan solusi, namun mereka menawarkan suara.

Dalam lanskap musik yang semakin datar dan mudah ditebak, VoB berani berjalan menanjak. Mereka tahu arah mereka, dan tidak butuh validasi dari siapa pun. TRANSISI adalah karya yang penuh integritas, keberanian, dan jiwa. 

Penilaian: 9 / 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *