Black Rabbit: Resep Gila Perpaduan Musik, Restoran, dan Thriller
Di tengah gempuran drama kriminal yang gloomy, Black Rabbit terasa seperti eksperimen Netflix yang nekad: gabungin musik, restoran, dan thriller dalam satu racikan. Hasilnya? Kadang bikin nagih, kadang bikin geleng kepala, tapi jelas punya rasa beda.
Oleh: DJOKO ADNAN
Dari Band Nirvana-lite ke Restoran Bohemian

Jake (Jude Law) dan Vince (Jason Bateman) Friedkin awalnya bukan pebisnis restoran. Mereka tumbuh dalam keluarga berantakan, bikin band ala Nirvana-lite, lalu hancur karena drugs dan ego. Dari situ, Jake banting setir jadi manajer artis, Vince terseret masalah, hingga akhirnya mereka buka restoran tiga lantai bernama Black Rabbit , sebuah clubhouse bohemian yang langsung jadi omongan New York.
“Black Rabbit terasa seperti The Bear, tapi dengan sejarah rock band gagal yang ikut menghantui di balik dapurnya.”
Restoran Sebagai Panggung Baru

Yang bikin series ini menarik, restoran bukan sekadar latar. Dapur Black Rabbit diposisikan sebagai arena pertarungan baru . Bukan lagi soal lagu atau konser, tapi plating, ritme kerja, dan tensi bisnis. Chef Roxie (Amaka Okafor) jadi karakter yang mencuri perhatian, terutama lewat relasi personalnya dengan Anna (Abbey Lee). Sayangnya, subplot ini agak sering terpinggirkan di antara drama kakak-adik Friedkin.
Thriller Gelap dengan Karakter Menyebalkan

Sebagai thriller, Black Rabbit punya tensi tinggi: dari adegan perampokan, utang dengan gangster, sampai kesalahan fatal Vince yang bikin semua makin runyam. Tapi jangan harap ada karakter “baik-baik” di sini. Vince terlalu egois, Jake terlalu sibuk jadi pemadam kebakaran. Hasilnya, penonton dipaksa nonton dua orang yang… kadang bikin susah disukai.
“Black Rabbit adalah tontonan yang bikin kamu geregetan: kamu benci karakternya, tapi nggak bisa berhenti nonton.”
Musik Masih Jadi Denyut Cerita
Meski fokus geser ke restoran, musik tetap jadi denyut cerita. Masa lalu sebagai musisi selalu muncul: lewat cara mereka memandang hidup, konflik, sampai ritme chaos yang mereka bawa ke dapur. Ada semacam paralel: band butuh harmoni, restoran juga butuh sinkronisasi — dan di Black Rabbit, dua-duanya selalu gagal.
Racikan Pahit tapi Layak Dicoba
Black Rabbit memang bukan comfort series. Tone-nya gelap, karakternya bikin capek, dan konfliknya kadang overstuffed. Tapi justru itu daya tariknya. Kalau kamu suka sesuatu yang intens, berlapis, dan nggak takut bikin penontonnya nggak nyaman, ini racikan pahit yang worth to try.
“Black Rabbit bukan sekadar drama kriminal. Ia adalah eksperimen rasa — pahit, kacau, tapi tetap bikin penasaran.”
Nilai: 8/10

