Lilith Fair: Building A Mystery, Dokumenter Musik Perempuan di Disney+ yang Menghidupkan Semangat 90-an

Lilith Fair: Building A Mystery di Disney+ bukan sekadar dokumenter nostalgia 90-an. Film karya Ally Pankiw ini menyoroti perjuangan perempuan di industri musik melalui kisah Sarah McLachlan dan generasi artis yang menyalakan panggung kesetaraan.

Oleh: DJOKO ADNAN

Dari Nostalgia ke Gerakan Perempuan

Dari arsip 90-an hingga suara generasi baru, “Lilith Fair: Building a Mystery” bukan sekadar dokumenter musik , tapi cermin tentang bagaimana ruang perempuan di panggung pop belum benar-benar setara.

Menonton film dokumenter Lilith Fair: Building a Mystery yang tayang di layanan streaming Disney + terasa seperti membuka album foto lama: hangat, penuh kerinduan, sekaligus menyentil kenyataan bahwa perubahan belum sepenuhnya tiba. Dokumenter karya Ally Pankiw ini bukan sekadar nostalgia; ia menelusuri akar  yang tak pernah mati.

Pankiw dan timnya menggali lebih dari 600 jam footage lawas : rekaman konser, backstage, hingga wawancara , dan merangkainya jadi narasi yang hidup, bukan monumen. Arsip itu menjadi saksi bisu: tawa, kekhawatiran, dan api semangat perempuan yang berani tampil di panggung yang dulu “dikhususkan” untuk laki-laki.

Meski Sarah McLachlan jadi pusat cerita sebagai penggagas festival, film ini tidak menjadikannya figur tunggal. Kita melihat Paula Cole, Sheryl Crow, Erykah Badu, Brandi Carlile ,  suara-suara yang dulu membentuk satu panggung dengan ide sederhana tapi radikal: “You belong here.”

Refleksi dari Masa ke Masa

Lilith Fair menegaskan bahwa misogini di industri musik bukan masa lalu. Dalam segmen pembuka, film menyoroti budaya media dan radio 90-an yang sinis terhadap penyanyi perempuan. Tiga dekade berlalu, situasi itu belum sepenuhnya sirna — dari cara label masih mengukur artis perempuan lewat “daya jual,” hingga bagaimana media masih sering menilai mereka lewat visual, bukan karya.

Menonton dokumenter ini, terasa betul bagaimana film ini berusaha menjembatani dua generasi: mereka yang tumbuh di 90-an dan mereka yang baru mengenal female-fronted scene lewat platform digital.

Sedikit Terlalu Lembut, Tapi Tetap Menggugah

Ritme dokumenter ini kadang terasa terlalu lembut , seolah Pankiw ingin memberi ruang bagi kenangan untuk bernapas. Tapi di sisi lain, film ini kehilangan sedikit ketajaman kritis. Bagian soal dinamika internal Lilith, keputusan ekonomi, atau kontroversi Planned Parenthood hanya disentuh sekilas. Padahal di situlah mungkin terletak lapisan paling menarik: kegagalan sebagai bagian dari gerakan.

Namun, Lilith Fair: Building a Mystery tidak pernah menjanjikan ledakan. Ia lebih memilih menjadi bara kecil yang tetap menyala.

Film ini bukan sekadar penghormatan untuk festival perempuan pertama yang menembus arus utama, tapi juga pengingat bahwa ruang aman di musik tidak datang begitu saja. Ia harus diciptakan, dipertahankan, dan diwariskan.

Di tengah dunia yang kini didefinisikan algoritma dan playlist curation, Lilith Fair terasa seperti seruan halus dari masa lalu:

“Don’t forget — music was once a movement.”

Rating: 8/10 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *