MAD UNICORN: Mimpi Gila “Sarjana” Tambang Pasir

Tantangan membangun serial yang terinspirasi kisah nyata adalah: bagaimana membuatnya tetap terasa hidup, tanpa kehilangan rasa hormat pada kenyataan. Terlalu dekat, salah-salah jadi dokumenter. Terlalu bebas, jadi fiksi murahan. Mad Unicorn, drama Thailand yang tayang di Netflix, berhasil berdiri di antara dua kutub itu.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Kita diajak masuk ke dunia Santi Saelee, seorang anak tambang dari Lampang yang hidupnya tampak ditakdirkan untuk stagnan. Tapi seperti bara yang menunggu angin, Santi punya sesuatu dalam dirinya: ketidakpuasan yang pelan-pelan berubah jadi ambisi, lalu tekad untuk mencari jalan keluar.

Terinspirasi dari sosok nyata Komsan Lee, pendiri Flash Express, serial ini bukan sekadar kisah sukses startupMad Unicorn adalah cerita tentang bagaimana seseorang bisa terus bergerak maju meskipun semua hal di sekitarnya seakan terus menghalangi.

Natara “Ice” Nopparatayapon memainkan Santi dengan kesederhanaan yang menyentuh. Nggak dramatis. Nggak teatrikal. Tapi jujur. Sejujur rasa lapar, sejujur rasa ingin membuktikan bahwa hidup bisa lebih dari sekadar bertahan.

Dan mungkin itu alasan kenapa kita bisa tertarik pada serial ini. Santi nggak tampil sebagai pahlawan. Ia orang biasa, dengan luka. Dengan rasa lelah dan membuat pilihan-pilihan yang kadang salah. Hal seperti inilah yang bisa melahirkan empati.

Nggak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Mad Unicorn dibangun dengan kesabaran. Alurnya nggak meledak-ledak, tapi merayap, menyusup, menghantam secara perlahan. Ini bukan cerita tentang sukses instan. Ini tentang kegagalan yang datang bertubi-tubi. Tentang keputusan yang pahit. Tentang bagaimana bisnis bukan hanya membentuk karier, tapi juga mengubah orang. Bahkan kadang membuatnya kehilangan siapa dirinya.

Visual serial ini nggak coba mencuri perhatian. Bahkan bisa dibilang visualnya hadir hanya untuk melayani cerita. Tapi justru di situ kekuatannya. Kampung yang berdebu, tambang yang berisik, ruang kantor yang sumpek, semuanya tampil seperti apa adanya. Tanpa sentuhan filter berlebihan. Jauh dari romantisasi kelas pekerja. Itu yang membuat kita merasa nggak sedang menonton dongeng. Inilah kenyataan yang difilmkan.

Buat saya, satu hal yang paling membekas dari serial ini adalah keberaniannya untuk diam. Di banyak momen penting, nggak ada musik dramatis, nggak pakai monolog panjang. Hanya Santi, duduk sendiri, memikirkan semua pilihan yang ia buat. Dan di momen-momen seperti itulah, Mad Unicorn terasa paling manusiawi.

Xiaoyu, karakter perempuan yang diperankan Methika Jiranorraphat, bukan sekadar pasangan atau pelengkap. Ia adalah rekan yang melihat dunia dari luka yang berbeda. Hubungan dengan Santi nggak dibumbui klise romantik. Mereka saling percaya, saling menguatkan, dan saling mempertanyakan arah hidup masing-masing. Ini yang membuat Mad Unicorn nggak jatuh jadi serial gombal murahan.

Disutradarai oleh Nottapon “Kai” Boonprakob, Mad Unicorn memilih jalan yang tidak populer: menaruh emosi di depan, bukan sensasi. Ia mengajak kita duduk, mendengarkan, dan perlahan ikut tenggelam. Dan ketika akhirnya Santi berdiri di puncak, menjadi pemilik perusahaan besar yang lahir dari mimpi kecil di kampungnya, kita nggak bersorak. Kita malah ikut terdiam. Karena kita tahu apa yang dikorbankan untuk sampai ke sana. 

Skornya: 9 dari 10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *