Deftones – Private Music (2025): Gelap, Berat, tapi Tetap Indah
Empat tahun sejak Ohms, Deftones akhirnya kembali lewat Private Music (2025) — album yang kembali membuktikan bahwa band ini masih jadi poros di antara kebisingan dan keindahan. Dalam 42 menit yang padat dan emosional, Chino Moreno dan kawan-kawan mengubah distorsi jadi ruang yang terasa spiritual.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Chino Moreno lagi-lagi jadi pusat perhatian. Vokalnya bisa berubah cepat: kadang berbisik pelan, kadang menjerit sekuat tenaga. Dua single awal, My Mind Is a Mountain dan Milk of the Madonna, jadi contoh jelas. Lagu-lagu ini berat, penuh distorsi, tapi ada floating athmosphere yang bikin kita betah.
Produksi album ini juga rapih banget. Durasi cuma 42 menit, tapi padat tanpa lagu yang terasa buang-buang waktu. Sepertinya, ini salah satu karya terbaik Deftones dalam 10 tahun terakhir.
Dari awal sampai akhir, saya ngerasa kayak lagi naik rollercoaster emosional: tegang, plong, lalu tegang lagi. Ini Deftones yang udah paham banget cara mainin ruang. Kerasnya tetap ada, tapi atmosfernya menghanyutkan. Bahkan mungkin bisa ketiduran di tengah distorsi.
Private Music nunjukkin kalau Deftones masih tahu cara bikin musik keras terasa indah. Mereka tetap agresif, tetap berat, tapi dengan sentuhan atmosferik yang bikin beda dari band lain.
Saya nilai album ini 8/10. Bukan karya terbesar mereka, tapi bukti kalau Deftones masih relevan dan masih punya taring.


