Gigi – Forever In The Air (2025): Bernapas Lagi dengan Jiwa yang Hangat dan Jujur

Setelah sepuluh tahun tanpa album penuh, Gigi kembali lewat Forever In The Air (2025), karya yang terasa seperti udara segar bagi musik pop-rock Indonesia. Band legendaris ini memilih jalan yang pelan tapi pasti, mengedepankan kejujuran musikal dan nuansa analog yang hangat.

Oleh: BOY MAHAR INDARTO

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Di dunia musik, itu bisa berarti tiga tren lewat, dua genre mati, dan satu generasi baru lahir. Tapi Gigi kayaknya nggak terlalu peduli. Band yang udah jadi legenda pop-rock sejak 1994 ini kembali dengan Forever In The Air, dan—tenang aja—mereka nggak datang dengan gaya nostalgia murahan.

Setelah sepuluh tahun tanpa rilisan penuh, Gigi ngeracik album ke-25-nya dengan proses yang nggak main-main. Biasanya butuh beberapa bulan aja buat ngerampungin album, kali ini mereka ngabisin waktu hampir setahun penuh. Sebagian prosesnya bahkan dilakukan di Power Station, New York – studio legendaris tempat banyak musisi dunia bikin karya klasik. Di sana, Gigi nyoba balik ke rekaman analog. Hasilnya? Bunyinya berasa punya jiwa – hangat, organik, dan hidup.

Dari track pembuka sampai akhir, Forever In The Air kedengeran kayak versi Gigi yang lebih kalem, tapi tetap punya nyala. Lagu Menari-nari dan Semua Kan Terjawab jadi contoh paling jelas: melodinya catchy, tapi punya ruang kosong yang bikin pendengar ikut “bernapas” bareng musiknya. Gigi nggak lagi ngebut kayak dulu-dulu; mereka sekarang tahu kapan harus berhenti dan dengerin gema sendiri.

Armand nyanyi dengan nada yang lebih lembut, Dewa Budjana main gitar kayak lagi ngobrol sama masa lalu, sementara Thomas dan Hendy bikin groove yang adem tapi tetap padat. Nggak ada lagu yang niat buat jadi hits besar – tapi tiap treknya punya sesuatu yang bikin lo pengen ngulangin. Kayak Jangan yang gampang banget buat sing-along, Don’t Stop yang groove-nya mirip Red Hot Chili Peppers – funk, seksi, tapi tetap berjiwa Gigi. Ada juga Priyayi, yang liriknya nyenggol halus gaya hidup kelas atas yang suka pamer tapi sebenernya nyesek. Nggak preachy, tapi ngena.

Dan mungkin itu pesona utama Forever In The Air: kejujuran. Rasanya ini bukan album yang pengen buktiin kalau mereka “masih bisa.” Ini karya yang bilang, “Kami masih di sini, karena memang nggak pernah pergi.”

Buat lo yang tumbuh di era Nirwana, Janji, atau Oo…Oo…Oo…, album ini bakal berasa kayak ketemu teman lama di kafe sore hari – ngobrol santai, udah nggak ngebahas hal-hal besar, tapi tetap hangat. Dan buat pendengar baru, Forever In The Air bisa jadi bukti kalau band yang udah 30 tahun pun masih bisa kedengeran segar.

Nilai: 8/10. Udara boleh berubah. Tapi Gigi masih tahu banget cara bernapas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *