The Old Guard 2 (2025): Tak Abadi di Dalam Cerita

Lima tahun setelah film pertamanya, The Old Guard 2 akhirnya datang lewat Netflix dengan janji pertempuran baru dan misteri para immortal yang lebih dalam. Tapi yang kita dapat justru bukan medan perang, melainkan ruang tunggu yang terlalu lama.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

The Old Guard 2 datang lima tahun setelah film pertamanya mencuri perhatian. Waktu yang cukup lama untuk membangun rindu dan cukup panjang untuk berharap sesuatu yang matang. Sayangnya, film ini malah seperti seseorang yang buru-buru keluar rumah dengan kemeja belum disetrika. Ya, niat baiknya bisa terlihat. Tapi tetap saja, kelihatan kusut.

Padahal awalnya, film ini menjanjikan. Dibuka dengan ritme cepat, ledakan-ledakan, dan sekelompok immortal yang masih menjalankan misi diam-diam. Charlize Theron kembali sebagai Andy, dingin seperti biasa, dan tetap tangguh meski rambutnya kali ini lebih lemas dari ekspresinya. Ada KiKi Layne yang makin matang, ada Jason, Joe, Nicky, dan Booker, wajah-wajah lama yang rasanya familiar. Seperti geng lama yang baru ketemu lagi setelah pandemi.

Tapi setelah itu? Rasanya seperti kelamaan duduk dan berbasa-basi. Film ini memperlambat dirinya sendiri. Cerita yang harusnya membawa kita lebih dalam ke mitologi para immortal, malah membuat kita tenggelam dalam perbincangan yang nggak selesai-selesai. Bahkan ketika tokoh villain-nya, Discord (diperankan Uma Thurman), muncul dengan tatapan tajamnya, film ini tetap nggak berani menekan gas. Rasanya seperti dijanjikan pertarungan, tapi hanya diberi perdebatan.

Yang bikin frustrasi, The Old Guard 2 punya semua bahan yang dibutuhkan untuk jadi sekuel yang keren. Aktor-akternya kuat. Dunia yang dibangun di film pertama masih penuh misteri. Dan Quynh, karakter yang dulu sempat dikurung di dasar laut selama berabad-abad, akhirnya kembali. Tapi, alih-alih menggali potensi itu, film ini memilih untuk menunda. Seolah semua hal penting akan terjadi di film berikutnya.

Paham. Itu memang strategi franchise. Tapi kalau film ini cuma jadi pengantar buat sesuatu yang belum tentu ada, ya rasanya kayak dikasih brosur, bukan pertunjukan. Dan ending-nya, ya ampun, berhenti di tengah pertarungan. Literally. Layarnya gelap, dan kita ditinggal dengan perasaan: Nah, kok udahan?

Tapi bukan berarti semuanya jelek. Masih ada momen-momen kecil yang lumayan berhasil menyentuh. Booker misalnya, yang menyimpan luka dan ingin menebus masa lalu, tampil lebih manusiawi dari sebelumnya. Hubungan Joe dan Nicky tetap jadi napas hangat yang menyenangkan. Dan beberapa adegan aksi, meskipun jarang, tetap terasa intensnya.

Masalahnya, semua itu seperti potongan puzzle dari dua film berbeda. Yang satu ingin jadi drama eksistensial tentang abadi dan kehilangan. Satunya lagi ingin jadi aksi blockbuster yang siap meledak kapan saja. Tapi The Old Guard 2 tidak pernah memilih. Ia berputar-putar di tengah. Dan sayangnya, tidak pernah benar-benar sampai.

Akhirnya, ini bukan soal film yang jelek, tapi ini adalah film yang nggak berani jujur pada dirinya sendiri. Dan bagi saya, itu lebih menyedihkan. Karena saya tahu mereka bisa lebih dari ini. Kita sudah lihat itu di film pertama.

Skor saya? 5 dari 10. Kalau begini terus, sepertinya para immortals nggak akan abadi di benak penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *