PERAYAAN MATI RASA: Film Umay Shahab dan Iqbaal Ramadhan yang Mengajarkan Arti Kehilangan

Perayaan Mati Rasa karya Umay Shahab bukan sekadar film keluarga biasa. Lewat akting Iqbaal Ramadhan, Devano Danendra, dan Dul Jaelani, film ini menyajikan potret generasi yang berjuang memahami kehilangan. Bukan dengan air mata, tapi dengan diam yang menyakitkan.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Ada satu momen dalam Perayaan Mati Rasa yang membekas lama pada saya setelah layar menjadi hitam. Sebuah lagu sederhana dinyanyikan di kamar yang sunyi, tanpa tata cahaya megah atau permainan kamera yang mencolok. Hanya suara yang retak karena tangis dan seorang anak yang nggak bisa lagi membedakan antara rindu dan marah. Film ini tahu betul bahwa kehilangan terbesar bukanlah kematian, melainkan perasaan yang kita paksa untuk nggak dirasakan.

Karya Umay Shahab ini adalah perayaan trauma yang nggak berteriak, tapi hening dan makin lama makin terasa sesak. Iqbaal Ramadhan, memerankan Ian, anak sulung dari keluarga yang baru saja ditinggal sang ayah, tampil dengan keberanian yang jarang kita lihat dalam sinema Indonesia. Iqbaal nggak mencoba memikat penonton dengan simpati, melainkan mengajak mereka menyelami kebuntuan batin yang nggak punya kata. Ian, sosok yang diperankannya, adalah potret generasi yang dipaksa dewasa tanpa buku petunjuk. Mungkin, dalam keheningan matanya, beberapa dari kita bisa melihat diri kita sendiri.

Siapa yang berduka di film ini bukanlah hal terpenting. Film ini justru fokus menceritakan siapa yang paling nggak tahu bagaimana cara merasakannya. Ada ironi getir saat karakter Uta, adik Ian yang diperankan Umay, justru menjadi suara yang lebih jujur dan terbuka tentang rasa sakit yang mereka alami. Sementara, Ian justru lebih memilih untuk menyimpan semua di hati, tanpa berusaha melupakan emosi.

Hubungan kedua kakak beradik ini bukanlah konflik besar kayak drama keluarga pada umumnya. Mereka nggak saling membenci, cuma terlalu lelah untuk saling memahami. Inilah yang jadi kekuatan naskah film ini. Ceritanya nggak memaksakan resolusi, namun membiarkan luka tetap menjadi luka, tanpa dibalut dengan pesan-pesan instan.

Musik dalam film ini bukan hanya menjadi latar, tapi jadi karakter tersendiri. Band fiktif Midnight Serenade yang dibentuk Ian bersama teman-temannya menjadi sarana untuk mengeluarkan rasa yang nggak terucap. Lagu-lagu mereka, ditulis dan dibawakan langsung oleh Iqbaal, Devano Danendra, dan Dul Jaelani, terasa seperti catatan harian yang dilagukan. Hasilnya, barisan lagu menyentuh yang terasa benar-benar berasal dari tempat yang perih.

Umay sebagai sutradara menunjukkan kematangan visual yang mengejutkan. Ia tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh. Kamera nggak pernah berusaha mengarahkan emosi, namun di-set menjadi saksi.

Apakah ada kelemahan? Tentu saja! Beberapa subplot, terutama yang melibatkan karakter sampingan seperti teman band atau sahabat keluarga terasa terlalu cepat digarap. Seakan film ini terlalu terburu-buru mengemas emosi sekunder agar nggak mengganggu alur utama.

Tapi itu nggak lantas membuat film ini berkurang nilainya. Karena inti film ini tetap berdiri kokoh: sebuah pengingat bahwa mati rasa bukan tanda ketabahan, tetapi sinyal bahwa kita belum berani merasakan.

Buat saya, film terbaik adalah yang nggak hanya membuat kita melihat, tetapi juga merasa. Perayaan Mati Rasa melakukan itu, bukan dengan plot twist atau dialog puitis, melainkan dengan membiarkan kita duduk bersama karakternya dalam ruang duka yang sunyi.

Film ini nggak meminta kita menangis. Dia hanya mengajak kita diam sejenak, dan mungkin, untuk pertama kalinya, benar-benar mendengar apa yang ada di dalam kepala kita sendiri.

Dan dalam dunia yang makin bising, itu adalah pengalaman yang sangat langka. Skor 8/10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *