Musik Indonesia di Era TikTok: Dari Lathi ke Komang, Saat Hook Menjadi Bahasa Global
Di era TikTok dan Spotify, musik Indonesia kini punya jalannya sendiri menuju panggung global. Mulai dari I Love You 3000 karya Stephanie Poetri hingga Komang milik Raim Laode, lagu-lagu lokal berhasil menembus batas bahasa dan budaya hanya lewat satu hal sederhana — hook yang mengena di hati.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Cuma butuh lima belas detik, satu potong lagu, satu video kreatif, dan boom! Musik Indonesia bisa menembus telinga pendengar nun jauh di sana. Mulai dari Los Angeles sampai Manila.
Nggak perlu promosi gila-gilaan, nggak juga harus di-backing label besar. Hari ini, TikTok (dengan bantuan Spotify) mengubah jalur distribusi musik lokal menjadi arena global. Kisah yang dulu hanya mimpi, kini jadi cerita sehari-hari!
Awal letupannya terjadi pada 2019. Saat Stephanie Poetri, anak dari diva Indonesia Titi Dwijayanti, menulis lagu “I Love You 3000” dari polling iseng di Instagram. Sebuah lagu yang jujur, ringan, dan muncul di saat yang tepat: dunia lagi gandrung-gandrung-nya pada kisah Tony Stark dan sang anak Morgan di film Avengers: End Game.
Lagu ini meledak di TikTok dan lanjut meroket ke puncak Spotify Global Viral 50 selama lebih dari empat minggu. Sebuah prestasi langka bagi musisi Indonesia independen, yang jarang terjadi tanpa kampanye promosi besar.
Billboard tak melewatkannya, mereka menyebut lagu ini sebagai bagian dari gelombang baru artis Asia yang mengaburkan batas antara fanbase lokal dan global, terutama lewat kekuatan media sosial dan komunitas digital. Meski tak secara spesifik memuji “I Love You 3000” sebagai perwakilan Asia Tenggara, pencapaiannya kerap dikutip sebagai contoh nyata dari munculnya suara kreatif dari wilayah ini dalam peta musik internasional.
Setelahnya, berturut-turut musisi Indonesia jadi pembicaraan di kancah musik global. Tahun 2020, Weird Genius dan Sara Fajira menarik perhatian dunia lewat “Lathi”, lagu gamelan yang dibungkus EDM. TikTok memainkan peran krusial dalam meledakkan Lathi ke panggung global. Tantangan #LathiChallenge, yang melibatkan transformasi visual dramatis seiring beat drop lagu, menyebar cepat di antara kreator kecantikan dan konten horor, dimulai dari Indonesia lalu menjalar ke Malaysia, Filipina, bahkan Amerika Serikat.
Visual kuat yang berpadu dengan unsur lokal seperti gamelan dan lirik Jawa membuat lagu ini menonjol di tengah banjir konten. Ribuan video dibuat, ditonton ratusan juta kali, dan menciptakan efek bola salju yang mempertemukan audiens TikTok dengan Spotify dan YouTube. Nggak hanya menciptakan tren, Lathi menjadi perbincangan karena berhasil membuktikan bahwa identitas lokal bisa hidup berdampingan dengan tren global, keluar dari batas-batas bahasa dan negara.
Masih di tahun yang sama, lagu satir berjudul Ampun Bang Jago karya Tian Storm dan Ever Salikara mencuat tanpa diduga-duga. Meski berakar dari komunitas lokal, lagu ini viral di TikTok karena nadanya yang jenaka dan cocok dijadikan latar video dance dan meme. Popularitasnya melonjak ke level internasional saat digunakan secara nggak sengaja dalam video viral instruktur aerobik Myanmar, yang tanpa sadar menari di tengah kudeta militer. Dari situlah Ampun Bang Jago menjelma jadi fenomena global. Memperlihatkan betapa satu potong lagu bisa menembus batas politik, geografi, dan makna, selama punya hook yang kuat dan momentum yang tepat.
Tahun 2022, giliran “To The Bone” milik Pamungkas yang mengambil alih perasaan pendengar lintas negara. Lagu ini sebenarnya dirilis tahun 2020, dan menemukan momentumnya dua tahun kemudian berkat TikTok, saat ribuan pengguna dari Filipina, Malaysia, hingga Thailand menjadikannya latar curhat patah hati mereka. Liriknya yang puitis dan emosional, dipadukan dengan progresi chord yang melankolis, membuat lagu ini terasa universal. Bahkan di Filipina, To The Bone bahkan menduduki posisi teratas Spotify Top 50 selama berminggu-minggu, dan menjadi simbol “emotional anthem” generasi yang sedang belajar merelakan.
Tahun 2023, lagu “Sial” dari Mahalini dan “Komang” daristand up comedian yang merangkap jabatan jadi penyanyi, Raim Laode, berhasil duduk di puncak tangga lagu Spotify Global Viral. Sial dikenal lewat potongan lirik yang galau dan langsung nempel. Lagu ini sering dipakai buat curhat di TikTok. Sedangkan Komang, lagu cinta sederhana yang Raim tulis untuk istrinya, viral karena hangat dan jujur. Nggak ada produksi mewah atau promosi besar-besaran, tapi justru itu yang bikin orang merasa dekat.
Masuk 2024 hingga 2025, giliran lagu-lagu dengan akar lokal yang unjuk gigi. “Garam & Madu”, “Stecu”, dan beberapa lagu berbahasa daerah lain mulai ramai diputar. Bukan cuma di Indonesia, tapi juga muncul di radar pendengar luar. Banyak dari lagu ini viral di TikTok berkat video dengan suasana khas daerah, tarian tradisional, atau cerita personal dari para kreatornya.
Meski liriknya kadang nggak dipahami semua orang, suasana dan nuansa yang dibawa justru jadi kekuatannya. Fenomena ini membuka jalan baru: bahwa musik daerah pun bisa mendunia, asal punya rasa yang tulus dan bisa dirasakan lintas bahasa.
TikTok memang membuat musik lebih mudah viral, tapi juga membuat lagu lebih mudah mempresentasikan siapa kita. Lagu seperti “Ojo Dibandingke” bukan cuma viral karena lucu, tapi karena menyentuh rasa setara. Lagu “Komang” viral bukan karena strategi, tapi karena cinta.
Eks, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabinet Indonesia Maju, Sandiaga Uno, bahkan menyebutkan dalam keterangan pers Kemenparekraf yang dirilis tahun 2023, “musik Indonesia bisa jadi duta budaya paling efektif, karena langsung masuk ke perasaan orang.”
Platform seperti Spotify ikut mendorong lewat kampanye Suara Indonesia, yang memajang musik pop, dangdut, R&B, hingga tradisi lokal dalam satu etalase yang sama. Dunia mulai melihat musik kita sebagai lanskap yang beragam, bukan cuma satu warna.

Dari RBT ke TikTok : Sebuah Dejavu?
Tapi euforia ini juga membawa tantangan. Di satu sisi, musisi didorong untuk membuat lagu yang bisa viral dalam 15 detik. Dalam jangka panjang, ada kekhawatiran bahwa ini membuat ekspresi musikal jadi seragam, semua dipotong jadi hook, semua diarahkan untuk cocok dengan FYP.
Mundur sedikit ke belakang, di era 2005-2012, lagu seperti Cinta Ini Membunuhku atau Separuh Aku mendulang royalti ratusan juta rupiah bukan dari penjualan album, melainkan dari ringback tone (RBT). RBT atau yang dilokalkan menjadi nada sambung pribadi adalah potongan lagu yang dimainkan oleh operator untuk menggantikan bunyi “tut, tut” nada sambung saat kita menelepon seseorang.
Hari ini, saat menelepon jadi kemewahan karena semua berkomunikasi lewat teks (atau sesekali WA Call), RBT memang sudah nggak relevan. Tapi, percayalah, RBT ini membuat banyak sekali band masa itu menikmati transferan royalti yang amat besar.
Begitu menjanjikannya RBT sampai-sampai banyak musisi lokal berlomba menciptakan lagu yang cocok dipotong jadi nada sambung pribadi. Sialnya, lagu-lagu itu sering kali disusun agar bagian refrain atau bahkan bridge langsung bisa berdiri sendiri. Sebuah lagu dipandang bukan lagi sebagai karya utuh, tapi sebagai potongan yang paling menjual.
Kini, TikTok mengulang pola itu, tapi dengan dimensi yang berbeda. Lagu dipotong-potong oleh pengguna, diremix, dipercepat, dijadikan template video.
Lagu Lathi dari Weird Genius dan To The Bone milik Pamungkas membuktikan bahwa musik Indonesia bukan lagi pemain lokal. TikTok menjadi panggung global baru di mana identitas budaya dan algoritma saling bertemu.
Menurut laporan TikTok x Luminate (2024), 84% lagu yang masuk Billboard Global 200 berasal dari TikTok. Ini bukan hanya statistik, melainkan tanda bahwa TikTok kini menjadi titik awal dari banyak cerita sukses di industri musik dunia. Tak heran, label besar seperti Warner Music dan Sony Music kini punya divisi khusus yang memantau tren TikTok setiap hari.
Dengan realitas baru ini, label mengubah cara kerja. Fokus berpindah dari proyek album besar ke rilis single yang punya potensi viral. Potongan video dan audio jadi penting. Bahkan mixing lagu kini mempertimbangkan kemungkinan dibuat dalam versi speed-up demi relevansi di FYP.
Fenomena ini menunjukkan tren umum: label kini makin menuntut musisi menciptakan konten TikTok demi menjamin viralitas, bahkan sebelum lagu resmi dirilis. Ini berdampak ganda: mempercepat visibilitas, sekaligus menimbulkan pro-kontra di kalangan kreator dan penggemar.
Kok jadi mirip ya, sama RBT?
Musisi internasional mulai buka suara tentang tekanan industri untuk mengejar viral di TikTok. Salah satunya adalah Halsey, yang pada Mei 2022 mengunggah video TikTok di mana ia menyatakan bahwa labelnya Capitol Records menunda perilisan lagu baru mereka dengan satu syarat: harus ada “momen viral palsu” di TikTok terlebih dahulu.
“My record label won’t let me release a song unless they can fake a viral moment on TikTok.” Ungkap Halsey, seperti dikutip dari Pitchfork.
FKA twigs dan Florence Welch (Florence + The Machine), dikutip dari Time.com, menyindir hal ini lewat video humor di akun TikTok-nya dengan tulisan,”The label are begging me for ‘low fi TikToks’ so here you go. pls send help.”
Di Indonesia, musisi Indonesia juga mulai merasakan tekanan serupa. Beruntungnya, banyak dari mereka memilih jalan tengah: tetap jujur dalam berkarya, tapi tidak menolak jika lagu mereka viral.
Seperti yang dikatakan Sal Priadi dalam wawancaranya denga Jawa Pos di tahun 2023,“kalau lagunya nyampe, ya syukur. Tapi yang penting itu niat awalnya, bukan target view.”
Atau kata Raim Laode, saat ditanya IDN Times soal “Komang” yang mendunia dia menjawab santai, “saya gak pernah nyangka ‘Komang’ bakal viral. Saya cuma tulis karena saya cinta sama istri saya. Itu jujur, dan ternyata sampai ke orang lain.”

Viral Nggak Selalu Dangkal
TikTok memang membiarkan kreator konten menjadi kurator musik konten buatan mereka. Karena TikTok yakin hanya merekalah yang mengenal karakter konten buatannya sendiri.
Dan, saat video sang kreator viral, keinginan untuk mendengarkan lagunya akan ikut melonjak. Untuk itu, TikTok memfasilitasinya dengan fitur “Add to Music App” yang memungkinkan pengguna memindahkan rasa penasaran ke konsumsi penuh di layanan streaming musik pilihan mereka, seperti Spotify, Apple Music, atau Amazon Music.
TikTok menjelma menjadi semacam trailer, dan Spotify, YouTube Music, serta aplikasi streaming musik sejenis lainnya, berperan sebagai layar penuh. Pendengar yang jatuh hati, bisa mencari lagu lengkapnya di sana. Dan karena platform-nya sesama digital, hanya butuh hitungan detik dalam prosesnya.
TikTok membuka gerbang bagi seluruh musisi. Baik yang merilis album lewat label maupun di jalur independen. Lewat SoundOn (distribusi musik milik TikTok), musisi bisa mengunggah lagu dan langsung mengukur respons.
Fenomena viral mungkin datang dan pergi, tapi lagu seperti Komang dan Sial menunjukkan satu hal abadi: kejujuran masih punya tempat di tengah algoritma.
TikTok nggak peduli kamu siapa. Tapi kalau lagumu atau konten yang menggunakan lagumu sukses bikin orang berhenti scroll, kamu jadi punya kesempatan. Inilah kekuatan algoritma berbasis minat. Lagu menjelma jadi alat komunitas yang bisa dipakai di video lucu, transisi make up, hingga kampanye sosial.
Meski TikTok memfasilitasi lagu-lagu untuk lebih dikenal dan jadi viral, bukan berarti kualitas jadi hilang. Karena, yang viral nggak melulu lagu dangkal dan kaya gimmick.
Riset dari University of Wollongong, Music Perception oleh Timothy Byron, Carl Rushworth, dan Maxwell Stewart, yang telah diterbitkan dalm sebuah jurnal ilmiah bahkan menunjukkan, bagian lagu yang mengandung vokal utama, chorus, atau compound hooks cenderung lebih mudah diingat dan menciptakan kesan kuat secara emosional. Ini artinya, hook yang viral bukan cuma bagian catchy yang lewat begitu saja, tapi bisa menjadi pintu masuk ke pengalaman mendengarkan yang lebih dalam.
Lagu seperti “Komang”, misalnya, bukan hanya menempel di telinga, tapi juga membawa cerita cinta yang hangat dan jujur. Begitu juga “Lathi”, yang menggabungkan unsur budaya Jawa dengan produksi modern tanpa kehilangan identitas. Jadi, viralitas bukan soal mengorbankan kualitas. Tapi tentang menemukan cara baru agar musik bisa sampai ke hati lebih banyak orang.
Yang pasti, bukan cuma view dan like yang bertambah saat lagu viral. Ada dampak nyata yang kini bisa dihitung dan dirasakan. Lagu yang viral di TikTok bisa menjelma jadi konser sold out atau mengantarkan pemiliknya jadi raja chart internasional.
Menurut laporan Statista, pendapatan dari streaming musik di Indonesia pada tahun 2024 menembus angka USD 280 juta, hampir dua kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya. Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh kebiasaan mendengarkan musik lewat TikTok, Spotify, dan YouTube, tiga poros utama ekosistem musik digital hari ini.
TikTok mungkin tidak membayar royalti sebesar Spotify, tapi ia jadi semacam pintu gerbang emas. Lagu yang viral di TikTok bisa melesat 10 sampai 20 kali lipat jumlah pendengarnya di platform lain. Follower musisi ikut naik, undangan manggung berdatangan, bahkan tak jarang berujung pada kontrak distribusi internasional. Bagi banyak musisi Indonesia, TikTok bukan sekadar ajang hiburan, tapi jalan rezeki baru.
Label pun menyesuaikan arah. Sejumlah major label di Indonesia tampak mulai menaruh perhatian ke musisi dari daerah, sebuah respons terhadap suara lokal yang makin banyak muncul viral. Model talent scouting kini tak lagi terbatas di kota-kota besar. Mereka tahu, kadang justru dari Sulawesi, Kalimantan, atau Maluku lahir talenta yang segar dan jujur. Musik lokal tak lagi dipandang sebelah mata, tapi dicari, karena kini semua bisa punya peluang yang sama untuk viral.
Terkadang, TikTok juga menyorot kembali katalog lama, memberi berbagai musik Indonesia peluang tampil ke generasi baru. Meskipun belum ada data kuat mengenai lagu-lagu spesifik, fenomena serupa terjadi di banyak negara: lagu lama bisa mendapatkan ‘second wind’ melalui tren nostalgia dan kurasi komunitas digital. TikTok menciptakan redistribusi atensi, memberi ruang bagi berbagai jenis suara untuk didengar.
***
Begini seharusnya musik bekerja di era digital: hook yang viral bukan lagi sekadar jebakan klik, melainkan sebuah salam kenal. Salam yang membuat suara musisi dari kamar sempit di Ambon, rumah panggung di Kalimantan, hingga tepian sungai Sumatera bisa terdengar ke seluruh dunia.
Pada akhirnya, viral memang sebuah peluang emas, tapi bukan tujuan utama. Lagu yang hebat tidak lahir dari upaya mengakali algoritma, melainkan dari kejujuran hati. Selama musisi Indonesia terus berkarya dengan tulus, platform seperti TikTok dan Spotify bukanlah ancaman, melainkan jembatan terluas yang pernah ada.
Mungkin semua berawal dari satu hook yang memancing telinga. Tapi yang membuat sebuah lagu tak lekang oleh waktu dan selalu punya tempat untuk pulang adalah ‘rasa’.


