Ozzy Osbourne: Prince of Darkness yang Mengubah Dunia Rock dan Tak Pernah Padam
Ozzy Osbourne, Prince of Darkness dan legenda Black Sabbath, tutup usia. Suaranya tak pernah mati — rock and roll masih hidup bersamanya.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
“You can’t kill rock ’n’ roll, it’s here to stay.” Kalimat itu kini jadi epitaf paling indah untuk Ozzy Osbourne (1948–2025) — Prince of Darkness yang mengubah wajah musik dunia.
Ya, itu bukan hanya sebaris lirik dari lagu Diary of a Madman (1981). Itu adalah pernyataan hidup dari seorang anak tukang las yang nggak pernah menyangka suaranya akan menggema dari sudut lorong Birmingham hingga panggung-panggung terbesar di dunia.
Hari ini, dunia musik kehilangan lebih dari sekadar vokalis. Kita kehilangan suara yang pernah mewakili keresahan, kegilaan, sekaligus kasih sayang. Suara yang secara teknis kurang indah, tapi enak didengar karena tulus. Suara yang membuat anak-anak yang merasa sendirian jadi merasa punya teman.
Ozzy Osbourne telah pergi, dan kepergiannya terasa indah selepas konser terakhir Black Sabbath yang menjadi ajang luar biasa untuknya mengucap selamat tinggal. Pada panggung musik yang dicintainya dan pada dunia.
Hitam Nggak Selalu Jahat
Nggak ada yang bisa menebak kalau John Michael Osbourne kecil, bocah disleksia yang putus sekolah dan sempat mencuri pakaian dalam itu akan jadi salah satu pilar utama sejarah musik dunia. Tapi, yang namanya hidup nggak pernah soal siapa yang punya modal besar atau latar belakang mentereng. Kadang, justru dari anak yang tumbuh di sekitaran pabrik baja dan kamar sempit, lahir suara yang mengguncang zaman.
Bersama Black Sabbath, Ozzy memperkenalkan dunia pada musik yang nggak cuma keras, tapi juga berisi. Lagu-lagu kayak War Pigs dan Paranoid bukan cuma distorsi, melainkan sebuah pernyataan sosial. Isinya bukan tentang setan, tapi tentang manusia. Dan di tengah dentuman gitar dan gebukan drum, suara Ozzy melolong, mengaduk perasaan kita dengan vibrato yang nyaris putus.
Lalu dia jatuh. Mabuk, kehilangan arah, dikeluarkan dari band yang didirikannya. Tapi dari kehancuran itu, ia justru bangkit.
Bersama Sharon, perempuan yang bukan hanya jadi istrinya tapi juga penyelamatnya, Ozzy menyalakan ulang apinya. Blizzard of Ozz dirilis, dan dunia kembali angkat topi. Randy Rhoads ikut mengukir sejarah, dan Crazy Train menjadi lagu kebangsaan bagi mereka yang memilih untuk naik kereta tanpa jalur aman.
Ozzy nggak pernah jadi idola yang rapi. Dia menggigit kepala kelelawar karena dikira mainan, pipis di monumen karena mabuk berat, dan pernah berusaha menembak kucingnya sendiri. Tapi justru di balik kegilaan itu, orang menemukan sisi paling manusiawi dari seorang legenda. Dalam setiap tawa dan kelakuannya yang nggak masuk akal, Ozzy menunjukkan bahwa dia nggak pernah berpura-pura. Ozzy bukan dewa. Dia hanya manusia. Dan justru karena itu, dia disukai. Bahkan dicintai.
Terang yang Nggak Pernah Minta Jadi Lampu Panggung
Ketika MTV menayangkan The Osbournes, publik global akhirnya tahu kalau sosok menyeramkan di atas panggung ternyata punya anjing kecil, susah memegang remote TV, dan sering menangis karena hal-hal yang nggak penting bagi orang lain. Tapi buat Ozzy, semua itu penting.
Dalam memoirnya, I Am Ozzy, ia berkata dengan ringan, “As long as they’re laughing, I don’t care. Because I’ve always been able to laugh at myself.” Dan di situlah letak kekuatannya. Ozzy mengizinkan kita menertawakan absurditas hidup bersama-sama.
Melalui Ozzfest, dia memberi ruang bagi band-band muda keren yang belum dipercaya industri. Slipknot, System of a Down, bahkan Lamb of God, semua pernah duduk di bangku yang dibuka Ozzy. Dia bukan hanya tampil, dia memanggil generasi baru untuk maju. Karena Ozzy tahu dunia musik akan terus berubah, dan dia tak pernah takut untuk memberi tempat.
Penghargaan demi penghargaan datang. Grammy. Rock and Roll Hall of Fame. Lifetime Achievement. Tapi semua itu nggak mengubah Ozzy. Ia tetap berdiri di panggung dengan eyeliner yang mulai luntur dan tangan yang gemetar karena parkinson, meneriakkan kata yang sama seperti empat puluh tahun lalu, “Let me hear you scream!”
Dan sekarang, setelah keretanya berhenti dan semua tirai tertutup, kita hanya bisa berdiri, menatap langit, dan mengucapkan terima kasih.
Terima kasih karena telah memberi suara pada mereka yang nggak pernah punya suara. Terima kasih karena telah berani menangis di tengah jeritan. Terima kasih karena telah membuat gelap jadi nggak terasa sepi.
Selamat jalan, Ozzy Osbourne.
Kami akan terus naik kereta gilamu.
Kami akan tetap berteriak.
Karena rock and roll nggak bisa dibunuh.
Dan namamu, Prince of Darkness nggak akan pernah padam.


