SNOW WHITE 2025: Review Film Disney yang Kehilangan Cermin Dirinya Sendiri
Disney hadirkan Snow White 2025 dengan visual indah tapi kehilangan magi klasiknya. Simak review tajam dan lucu tentang remake ini di sini.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Disney kembali mengobrak-abrik katalog klasiknya, dan kali ini Snow White yang jadi korban. Film ini seperti seseorang yang baru selesai ikut workshop self-love, penuh semangat ingin jadi versi terbaik dari dirinya, tapi lupa siapa dirinya sebenarnya.
Rachel Zegler sebagai Snow White tampil dengan vokal yang prima dan aura girlboss yang niat, tapi kadang lebih terasa seperti nyasar ke set musikal daripada berada di dunia dongeng. Ia tidak tampil buruk, malah kadang menyentuh, tapi ada jarak yang aneh antara apa yang disampaikan dan apa yang penonton rasakan, seperti sedang ngobrol dengan AI yang terlalu banyak membaca kutipan Pinterest.
Lalu ada Gal Gadot, si Ratu Jahat yang terlalu cantik untuk jadi ancaman. Bukannya menyeramkan, ia lebih cocok jadi editor fashion sinis di sitkom tahun 2000-an. Tatapan dinginnya manis, tapi tidak menakutkan. Kamu bisa membayangkan dia memberi komentar pedas soal outfit kamu, tapi bukan kutukan yang bikin kamu tertidur seratus tahun. Ada potensi, tapi terjebak di karakter yang ditulis setengah hati.
Dan CGI tujuh kurcaci itu… astaga. Seperti sisa efek spesial dari proyek Marvel yang dibatalkan. Alih-alih memberikan nuansa hangat dan quirky seperti versi animasinya, mereka justru terasa seperti emoji bergerak yang ditempel di layar. Tidak ada jiwa, tidak ada kedalaman. Saya menontonnya sambil bertanya: ini Disney atau DreamWorks yang sedang uji coba?
Lagu-lagu baru karya Benj Pasek dan Justin Paul mencoba mengangkat semangat zaman sekarang, tapi hasilnya lebih mirip lagu motivasi pagi hari di radio daripada soundtrack legendaris. “Waiting on a Wish” punya niat besar, tapi berakhir sebagai lagu yang mungkin kamu dengar sekali lalu dilupakan selamanya. Ada usaha, tapi kurang menggigit.
Plotnya juga dirombak total. Pangeran dihapus. Fokusnya kini pada kemandirian, keberanian, dan pencarian jati diri. Itu bagus, sesuai zaman. Tapi eksekusinya terasa seperti naskah yang kebanyakan disensor, semuanya aman, rapi, tapi kehilangan keajaiban yang membuat kita jatuh cinta pada dongeng sejak awal.
Secara visual, film ini memang memukau. Warna-warnanya cerah, pencahayaannya cantik, kameranya bergerak percaya diri. Tapi semua itu seperti kado mewah berisi brosur motivasi. Indah, tapi kosong. Kamu bisa menikmati set dan kostumnya, tapi saat film berakhir, yang tersisa cuma rasa “yaudah”.
Disney mencoba memberikan napas baru pada kisah lama, tapi terlalu sibuk membuat semuanya relevan sampai lupa alasan kenapa kisah ini dicintai sejak awal. Ini bukan remake yang buruk, tapi juga jauh dari memuaskan. Snow White (2025) adalah usaha keras untuk menjadi sesuatu yang baru, tapi malah kehilangan cermin dirinya sendiri. Dan kalau cermin itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata: “Kamu cantik, tapi kamu siapa sebenarnya?”
6/10 dari saya untuk filmnya.


