RAY SAHETAPY: Api yang Nggak Pernah Padam
Hari ini, 2 April 2025, saya mendengar berita duka. Ray Sahetapy, salah satu aktor yang saya suka, meninggal dunia.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Buat saya, Ray bukan cuma aktor. Dia adalah badai yang mengaduk-aduk layar lebar. Lahir dengan nama Ferenc Raymond Sahetapy, dia bukan sekadar wajah di film, tapi alkemis yang bisa mengubah naskah biasa jadi sesuatu yang menggigit, menampar, bahkan meninju batin penonton.
Dari film klasik sampai ledakan sinema modern, Ray adalah bukti bahwa akting bukan sekadar profesi—ini perang, ini seni, ini gairah yang membakar. Lima film ini -yang saya pilih karena saya suka- adalah buktinya.

Ponirah Terpidana (1984) adalah drama sosial yang membara pelan-pelan, seperti rokok yang diisap dalam diam. Ray bermain sebagai Jarkasi, pria yang mencintai Ponirah (Nani Vidia) dengan hasrat mentah dan keputusasaan yang nyata. Ini bukan cinta biasa, ini ketidakadilan sosial yang membentur keras di wajah penonton.
Akting Ray di sini bukan hanya membawanya ke nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik di FFI 1984, tapi juga membuktikan bahwa dia bisa mencabik batasan karakter tanpa terlihat berusaha.

Lalu ada Secangkir Kopi Pahit (1985), sebuah potret getir kehidupan perantau di Jakarta. Ray memerankan Buyung, sarjana hukum yang mencoba membantu temannya, Togar (Alex Komang), bertahan hidup di ibu kota. Sebuah film yang lagi-lagi mengganjarnya dengan nominasi Piala Citra untuk Pemeran Pembantu Pria Terbaik.
Ini bukan film tentang menang atau kalah, ini tentang bertahan dalam sistem yang menggiling. Di tangan Teguh Karya, Ray menampilkan akting yang tenang tapi menghantam—detail kecil yang menghidupkan karakter lebih dari sekadar dialog panjang.

Kemudian datang Noesa Penida (1988), sebuah puisi yang ditulis dengan darah dan air mata. Ray menjadi Jaya, pria yang terjebak dalam kungkungan kasta, mencintai Gusti Ayu Pandansari (Ida Ayu Diastini) dengan keberanian yang hampir mustahil.
Ini adalah film tentang cinta yang tidak diizinkan, harapan yang selalu dipatahkan. Perannya di sini mengukuhkan lagi posisinya sebagai aktor besar, hingga membawanya masuk nominasi FFI 1989.

Lalu ada The Raid (2012), film yang membuktikan bahwa Ray bisa berbahaya, sangat berbahaya. Sebagai Tama, bos narkotika yang lebih mirip raja neraka, dia tidak butuh banyak gerakan atau ledakan untuk mengintimidasi.
Tatapan dan tawa sinisnya saja sudah cukup untuk membuat semua orang di layar (dan di bioskop) menahan napas. Di tengah lautan pukulan dan peluru, Ray tetap mencuri perhatian. Ini bukti bahwa aktor besar tidak butuh banyak layar untuk bersinar—bahkan di balik kabut darah, Ray tetap tak terabaikan.

Last but not least, ada Sebelum Iblis Menjemput (2018), film yang membuktikan bahwa horor sejati bukan tentang hantu, tapi tentang ketakutan yang menggerogoti dari dalam. Ray berperan sebagai Lesmana, pria yang menjual jiwanya demi kekayaan, lalu tenggelam dalam kebinasaan yang tak terelakkan.
Ini adalah teror yang merambat pelan tapi pasti, dan Ray menghidupkannya dengan intensitas yang membuat film ini terasa lebih mencekam. Timo Tjahjanto memberi panggung bagi Ray untuk menunjukkan sisi tergelapnya, dan dia tidak mengecewakan.
Ray Sahetapy bukan sekadar aktor. Dia adalah pengalaman. Intensitas yang tak bisa diabaikan, entah dalam drama penuh luka atau aksi brutal yang memacu adrenalin. Lima film ini hanyalah sebagian kecil dari kehebatan yang telah ia torehkan dalam sejarah sinema Indonesia. Dan satu hal yang pasti: Ray Sahetapy tidak pernah biasa-biasa saja.

