BASED ON A TRUE STORY: Pengakuan Dosa Will Smith

Will Smith akhirnya kembali ke musik. Hanya saja kali ini dia tidak membawa kesombongan khas Big Willie Style atau euforia pop-rap ala Miami.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Based on a True Story” bukan album untuk mereka yang ingin berpesta. Melainkan bagi mereka yang pernah jatuh, dihancurkan, lalu dipaksa untuk bangkit di hadapan dunia yang menertawakannya. Ini bukan sekadar album, ini adalah memoar seorang pria yang pernah menjadi raja, tersandung di depan miliaran pasang mata, lalu mencoba membangun kembali dirinya dari puing-puing harga diri yang hancur.

Sejak detik pertama, terasa jelas bahwa Smith tidak ingin kembali dengan trik lama. Dia membuka album ini dengan “You Can Make It“, sebuah anthem gospel yang bisa saja diputar di kebaktian Minggu atau di headphone seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa hidup masih punya harapan. Ini bukan Smith yang dulu. Ini adalah Smith yang sudah melalui neraka publik, mencicipi rasa pahit penolakan, dan kini mencoba menyalakan kembali sisa bara yang masih ada dalam dirinya.

Lalu ada “Beautiful Scars” yang menampilkan Big Sean, sebuah nomor introspeksi yang akhirnya membuat Will terlihat manusiawi. Ini bukan sekadar lagu, ini adalah pengakuan dosa dalam bentuk musik. Nggak ada basa-basi, nggak pakai pura-pura kuat. Dia tahu semua orang melihatnya jatuh, dan dia nggak berusaha menutupinya dengan braggadocio murahan. Sebaliknya, dia memeluk luka-lukanya, membiarkan kita semua melihat bekasnya, dan berkata, “Ya, gue pernah gagal. Tapi gue masih di sini.”

Dan ya, dia akhirnya menertawakan ironi hidupnya. Dalam video klip “Beautiful Scars“, dia bermain sebagai Neo—karakter yang seharusnya dia perankan di The Matrix tapi ditolaknya bertahun-tahun lalu. Ini adalah caranya mengakui bahwa dia pernah salah langkah, dan itu tidak apa-apa. Dunia mungkin ingin menjadikannya bahan lelucon, tapi Will Smith kini punya kendali atas narasi dirinya sendiri.

Secara musikal, “Based on a True Story” memang nggak menawarkan revolusi. Produksi albumnya solid, ada DJ Jazzy Jeff yang kembali untuk menyuntikkan sedikit nostalgia, dan ada Jaden yang memberikan warna yang lebih dalam pada beberapa trek. Tapi ini bukan album yang dibuat untuk mendominasi chart, ini adalah album yang dibuat untuk dirinya sendiri. Sebuah terapi dalam bentuk musik, sebuah cara untuk menyusun kembali kepingan-kepingan dirinya yang berserakan sejak insiden di Oscar 2022.

Namun, di situlah letak kekuatannya. Ini bukan Will Smith sang superstar, ini adalah Will Smith sang manusia. Tidak ada hook bombastis yang akan diputar di klub, tidak ada beat yang akan meledakkan arena konser. Yang ada hanya kejujuran. Dan dalam dunia musik yang dipenuhi oleh kepalsuan, kejujuran adalah sesuatu yang langka.

Nilai 7,5/10! “Based on a True Story” adalah Will Smith yang berdamai dengan dirinya sendiri—dan itu mungkin jauh lebih berharga daripada sekadar hits nomor satu di tangga lagu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *