“VAXIS III: THE FATHER OF MAKE BELIEVE”, Sebuah Opera Luar Angkasa
Coheed and Cambria tidak pernah setengah-setengah. Mereka tahu ini semua bisa terdengar berlebihan, tapi mereka tetap maju, menampilkan ledakan emosi dan konsep yang lebih besar.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Baiklah, Coheed and Cambria kembali lagi dengan “Vaxis III: The Father of Make Believe“, dan jika kalian berpikir mereka akan berhenti membuat kisah sci-fi rumit yang butuh buku panduan untuk dipahami—ya, kalian belum benar-benar mengenal mereka.
Claudio Sanchez masih menggenggam kemudi, masih menulis lagu seolah-olah dunia ini adalah novel grafis yang harus diberi soundtrack, dan masih menjahit prog rock dengan emo, power pop, serta ledakan gitar yang menggelegar seperti mesin perang. Tapi pertanyaannya adalah: apakah semua ini masih terasa menggugah, atau mereka sudah mulai terlalu jatuh cinta pada mitologi mereka sendiri?
Album ini dibuka dengan “The Endangered“, yang langsung menghantam dengan paduan suara besar, synth berat, dan produksi yang lebih bersih dari ruang operasi. Lagu ini mengisyaratkan bahwa kita akan diajak dalam perjalanan grandioso penuh ambisi.
Lalu ada “Meri of Mercy“, balada yang terdengar seperti lagu cinta hasil jamming My Chemical Romance dan Queen di luar angkasa. Hasilnya, sebuah lagu yang bisa mematahkan hatimu dalam gravitasi nol.
Tapi tunggu dulu, karena kita belum masuk ke bagian yang paling liar: ‘The Continuum“, empat bagian epik yang lebih mirip mini-musikal daripada lagu rock biasa. Ini adalah Coheed dalam mode paling teatrikal mereka—riff-riff besar, perubahan tempo yang dramatis, dan melodi yang seakan ingin menembus batas galaksi. Kalau kamu suka “2112“-nya Rush atau “The Wall“-nya Pink Floyd, ini akan terasa seperti perjamuan besar. Tapi kalau kamu hanya ingin lagu-lagu yang bisa langsung dinyanyikan saat naik mobil, mungkin ini bakal terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.
Ada sesuatu yang nggak terbantahkan dalam album ini: kejujuran dan ketulusan mereka dalam berkarya. Coheed and Cambria nggak pernah setengah-setengah. Mereka tahu ini semua bisa terdengar berlebihan, tapi mereka tetap maju, menampilkan ledakan emosi dan konsep yang lebih besar. Toh, ada beberapa momen yang terasa seperti filler, mereka sepertinya jadi lebih fokus pada narasi daripada lagu itu sendiri.
Bagi para die-hard fans, ini mungkin bagian penting dari mitologi Coheed. Tapi bagi yang datang hanya untuk musik, “Vaxis III” adalah album yang mengagumkan, tapi juga melelahkan.
Skor: 8/10 untuk ambisi yang luar biasa, eksekusi yang solid, meski beberapa bagian sedikit terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.


