“PESAN CINTA” : Saat Pop Romantis Berevolusi

“Pesan Cinta” terdengar lebih matang dibanding album-album Jaz sebelumnya. Tidak ada yang terdengar berlebihan, tidak ada yang terasa dipaksakan.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Jaz adalah tipe musisi yang tahu persis zona nyamannya: pop romantis yang empuk di telinga, lirik manis yang siap jadi caption Instagram, dan melodi yang terasa seperti pelukan hangat di tengah hujan gerimis. Tapi di album ketiganya, “Pesan Cinta“, ia tampaknya mencoba sedikit keluar dari pola. Tidak frontal, tidak liar, tapi cukup untuk membuat kita bertanya: “Oke, Jaz, apa lagi yang bisa kamu lakukan?”

Album ini adalah perjalanan yang terasa seperti membaca chat lama di WhatsApp, penuh kenangan manis, pahit, dan sedikit “Harusnya gue nggak kirim pesan itu.” Dari intro “Bersamamu“, Jaz sudah langsung menancapkan mood yang ia ingin bawa: nostalgia, harapan, dan cinta yang entah masih bisa diperjuangkan atau sudah harus dilepaskan. Lalu ada “Hilang“, lagu yang seperti memo suara seseorang yang sedang dalam tahap denial. Menolak kenyataan bahwa sesuatu yang indah telah berakhir.

Setelahnya, kita sampai di “Bukan Dengan Dia“, duet bersama Mawar de Jongh yang menjadi salah satu highlight di album ini. Chemistry mereka terasa natural, seperti dua orang yang sudah terlalu lama berpura-pura ‘cuma teman.’ Ini adalah salah satu momen terbaik Jaz di album ini. Emosinya lebih terasa, produksinya lebih hidup, dan lagunya terdengar seperti bisa menjadi anthem patah hati generasi baru.

Tapi kejutan terbesar datang dari “Jenuh“. Ini adalah Jaz yang sedikit lebih berani, sedikit lebih eksploratif. Ada elemen pop-rock yang membuatnya terdengar seperti lagu yang seharusnya dinyanyikan seseorang dengan jaket denim dan sepatu boots di panggung festival musik. Ini bukan sekadar lagu galau biasa, ini lagu seseorang yang sudah lelah tapi masih terlalu peduli.

Di sisi lain, “Move On Tutorial” terasa seperti self-reminder yang dikemas dalam format lagu pop yang gampang dinyanyikan di karaoke. Liriknya to the point, melodinya mudah melekat, dan yang paling penting—ini adalah Jaz yang tetap setia pada dirinya sendiri, tanpa terdengar terlalu repetitif.

Dari segi produksi, “Pesan Cinta” terdengar lebih matang dibanding album-album Jaz sebelumnya. Dengan tangan-tangan seperti Belanegara Abe, Kaleb J, hingga Ari Renaldi di belakangnya, album ini terasa seperti produk yang diracik dengan presisi. Tidak ada yang terdengar berlebihan, tidak ada yang terasa dipaksakan.

Apakah ini album terbaik Jaz? Jika kamu mencari sesuatu yang benar-benar baru, mungkin album ini belum sepenuhnya ke arah sana. Tapi jika kamu ingin Jaz yang sedikit lebih eksploratif, sedikit lebih berani, dan masih setia pada esensi pop romantisnya, “Pesan Cinta” adalah evolusi yang patut diapresiasi.

Skor: 7,5/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *