Upaya Will Smith Memperbaiki Citra Lewat Musik

Will menggunakan musik sebagai alat untuk menyampaikan bahwa ia bukan sekadar pria yang marah di Oscar, tapi seseorang yang mampu refleksi dan berkembang. 

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Dunia hiburan tak pernah kekurangan drama, tapi jarang ada momen yang begitu mengguncang seperti insiden Will Smith di Oscar 2022. Satu tamparan ke wajah Chris Rock di atas panggung, dan tiba-tiba citra “Mr. Nice Guy” yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh dalam semalam.

Kini, tiga tahun kemudian, Will kembali—bukan dengan permintaan maaf lewat talk show, bukan dengan sebuah film box office, tapi dengan sesuatu yang lebih personal: sebuah album.

Will Smith merilis album barunya, ‘Based on a True Story“, pada 28 Maret 2025. Ini bukan sekadar comeback musikal setelah dua dekade, tetapi lebih seperti sebuah pengakuan dosa.

Lagu-lagunya terdengar seperti catatan harian seseorang yang berusaha memahami kesalahan masa lalunya. Di trek pembuka, “Int. Barbershop – Day“, Will seolah berbicara dengan diri sendiri, merenungkan kejadian di Oscar, dampaknya pada keluarganya, dan bagaimana dunia melihatnya sekarang.

Jika mencermati liriknya, sama sekali tidak ada upaya mencari pembenaran. Sebaliknya, Will membiarkan dirinya rapuh di hadapan pendengar.

“I lost myself in that moment, had to face the mirror,” begitu salah satu baitnya. Ada nada penyesalan, tapi juga ada upaya untuk bangkit kembali.

Will Smith paham bahwa membangun citra bukan soal berbicara, tapi bertindak. Sejak insiden itu, ia jarang tampil di publik. Ia memilih ‘menghilang’ dan membiarkan waktu bekerja. Tapi kini, dengan album ini, ia kembali menawarkan narasi baru tentang siapa dirinya sekarang.

Dalam dunia komunikasi, strategi ini dikenal sebagai Image Repair Theory dari William Benoit. Teori ini menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami krisis reputasi, ada beberapa strategi yang bisa diambil, salah satunya adalah reducing offensiveness, di mana individu berusaha mengubah persepsi publik dengan menunjukkan sisi lain dari dirinya (Benoit, 1997).

Will menggunakan musik sebagai alat untuk menyampaikan bahwa ia bukan sekadar pria yang marah di Oscar, tapi seseorang yang mampu refleksi dan berkembang. Strategi ini mengingatkan kita pada kisah selebriti lain yang berhasil keluar dari krisis citra.

Robert Downey Jr., misalnya, pernah dicap sebagai ‘bad boy’ Hollywood sebelum akhirnya membangun kembali reputasinya lewat “Iron Man”. Taylor Swift juga menggunakan albumnya sebagai cara untuk mengubah persepsi publik setelah berbagai skandal dan konflik.

Will Smith mungkin tidak secara eksplisit menyebut albumnya sebagai strategi pemulihan citra, tetapi musiknya berbicara sendiri. Ini bukan album biasa. Ini adalah cara Will mengajak pendengar untuk melihatnya dari sudut yang lebih manusiawi: seseorang yang bisa salah, tetapi juga bisa belajar dan bertumbuh.

Apakah album ini cukup untuk mengembalikan citra Will Smith? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Namun, berdasarkan Situational Crisis Communication Theory dari W. Timothy Coombs, strategi yang Will ambil cukup efektif. Ia tidak menghindari topik sensitif, tidak mencari pembenaran, melainkan memilih pendekatan rebuilding, yaitu mengakui kesalahan dan menunjukkan perubahan nyata (Coombs, 2007).

Dengan demikian, “Based on a True Story” adalah lebih dari sekadar album. Ini adalah kisah seorang pria yang jatuh, tapi memilih untuk bangkit dengan cara yang paling ia kenal. Bukan dengan kata-kata kosong, melainkan dengan seni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *