“UPSTREAM” – Ketika Hidup Dikendalikan Algoritma Tanpa Hati
Film ini menggambarkan dunia gig economy dengan brutal, di mana manusia bukan lagi manusia, melainkan sekadar angka dalam sistem.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Xu Zheng nggak bermain aman. “Upstream” bukan film yang akan membuatmu merasa nyaman di kursi bioskop sambil ngemil popcorn. Ini adalah hantaman keras ke wajah. Nggak pakai peringatan, apalagi permintaan maaf. Film ini menggambarkan dunia gig economy dengan brutal, di mana manusia bukan lagi manusia, melainkan sekadar angka dalam sistem yang tak peduli siapa kamu, berapa umurmu, atau seberapa keras kamu bekerja.
Gao Zhilei (diperankan langsung oleh Xu Zheng) adalah pria 45 tahun yang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya di industri teknologi. Dari karier yang stabil, ia terlempar ke jalanan Shanghai sebagai pengantar makanan. Bukan karena ingin, tapi karena sistem memaksanya untuk bertahan hidup.
Algoritma adalah bos barunya yang dingin, tanpa emosi, dan tak pernah puas. Pesanan harus diantar tepat waktu, rating harus tinggi, dan keluhan pelanggan adalah vonis mati.
Film ini berjalan seperti lagu punk yang marah pada dunia. Tidak ada cerita sukses palsu, tanpa embel-embel “kalau kamu kerja keras, kamu pasti berhasil!” yang biasa dijual di seminar motivasi. “Upstream” menunjukkan kenyataan pahit yang selama ini sering pura-pura tidak terlihat—bahwa di balik setiap makanan yang kita pesan dengan satu klik, ada seseorang yang berkeringat, berlari, dan mempertaruhkan segalanya demi beberapa rupiah.
Film ini nggak hanya membuatmu tenggelam dalam kesedihan. Xu Zheng tahu cara menyuntikkan humor hitam ke dalam tragedi. Ada adegan di mana Gao menunggu pesanan di luar restoran mahal, menatap pelanggan kaya yang makan dengan santai, sementara ia sendiri nggak punya cukup waktu untuk sekadar duduk dan bernapas. Ironis. Menyedihkan. Kelucuan yang bikin perut mual.
Paruh terakhir film ini memang sedikit kehilangan arah, seolah-olah film ini sendiri nggak tahu ke mana harus pergi. Tapi itu bukanlah masalah besar, karena pesan yang ingin disampaikan sudah tertancap dalam-dalam.
Bagi saya, film ini punya skor 8,5/10.


