“KEKAL YANG SEMENTARA”: Patah Hati Tak Pernah Seindah Ini
Dari awal hingga akhir, album ini adalah rangkaian elegi yang menggema di ruang kosong hati yang pernah disinggahi seseorang.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Pernahkah kau merasa tenggelam dalam kesedihan? Tapi, bukannya berenang ke tepian, kau malah memilih diam, membiarkan dirimu larut, menikmati perihnya? Itulah sensasi yang diberikan “Kekal yang Sementara“, debut album Nabilla Taqiyyah yang seperti surat cinta bagi mereka yang nggak lagi punya alasan untuk percaya pada cinta.
Dari awal hingga akhir, album ini adalah rangkaian elegi yang menggema di ruang kosong hati yang pernah disinggahi seseorang. “Sementara Bukan Selamanya” menampar dengan kebenaran pahitnya, sementara “Terpatah Terluka” adalah lagu yang seolah memahami segala deritamu lebih baik dari sahabat terdekatmu.
Nabilla tidak hanya menyanyi, dia menyayat. Suara lembutnya seperti desiran angin yang membisikkan kisah-kisah yang ingin kau lupakan, tapi nggak bisa.
Dan di sinilah letak kelebihan sekaligus kelemahannya. Album ini konsisten hingga hampir monoton, nggak ada letupan energi, tidak ada jeda untuk sekadar menarik napas. Semuanya dibangun dalam spektrum melankolia yang sama.
Bagus? Jelas! Melelahkan? Bisa jadi. Kalau kau berharap ada satu lagu yang tiba-tiba mengajakmu bangkit dan berteriak “cukup!”, kamu nggak akan menemukannya di album ini.
Tapi justru itu daya tariknya. Nabilla tahu persis ke mana dia ingin membawa pendengar: ke dalam ruang nostalgia yang dingin dan sunyi. Dia tidak menawarkan solusi, hanya menyediakan tempat untuk meratap dengan elegan.
Jadi, apakah ini album yang akan dikenang? Kemungkinan besar, ya. Apakah ini album yang akan membuatmu menghubungi mantan hanya untuk mendengar suaranya sekali lagi? Hampir pasti.
Saya beri 8/10


