D’MASIV: Dari Gang Sempit Ciledug ke Panggung Dunia

D’MASIV adalah simbol ketahanan. Mereka bukan hanya rajin merilis album, tetapi juga membangun brand dengan cara yang tak biasa.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Di sebuah gang sempit di Ciledug, Jakarta, sekitar tahun 2003, lima pemuda berkumpul dengan mimpi besar yang nyaris mustahil. Rian Ekky Pradipta (vokal), Nurul Damar Ramadan (gitar), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum) membentuk D’MASIV, sebuah band yang kelak mengubah wajah musik Indonesia. Mereka memulai dari titik nol, atau bahkan minus. Mengamen di jalanan, menyelinap ke studio demi rekaman murah-meriah, menebalkan muka ikut berbagai kompetisi band. Bukan demi ketenaran kosong, tapi demi satu hal: musik yang berbicara lebih lantang dari sekadar eksistensi.

Titik balik mereka datang di tahun 2006, saat menjuarai kompetisi band yang mengantar mereka ke label rekaman Musica Studio’s. Begitu “Perubahan” (2008) meledak dengan anthem generasi muda seperti “Cinta Ini Membunuhku” dan “Di Antara Kalian”, industri mulai menggeliat. Mereka bukan cuma anak-anak kemarin sore yang beruntung, tapi band dengan energi stadion yang bisa bikin massa bergemuruh.

Namun, seiring popularitas, kritik pun menghantam. Tuduhan plagiasi muncul, menyeret mereka ke pusaran perdebatan soal orisinalitas. Apa mereka mundur? Tidak. Mereka merespons dengan merilis lebih banyak lagu, menggali lebih dalam, dan membuktikan bahwa D’MASIV bukan sekadar sensasi satu album.

Dan di situlah letak pengaruh mereka terhadap musik Indonesia. Selama satu dekade terakhir, D’MASIV adalah simbol ketahanan. Mereka bukan hanya rajin merilis album, tetapi juga membangun brand dengan cara yang tak biasa.

Saat band lain sibuk berstrategi dengan media sosial, di tahun 2025 D’MASIV membeli hak penamaan halte TransJakarta, sesuatu yang belum pernah dilakukan band lain. Ini bukan sekadar gimmick; ini cara mereka menegaskan eksistensi di ruang publik, mengubah halte menjadi monumen kecil bagi musik mereka. Mereka juga terus mendorong kolaborasi lintas genre, menggandeng musisi dari berbagai spektrum, dari pop hingga indie. Mereka bahkan menjelajahi dunia digital, dengan konser-konser daring yang menjangkau pendengar di luar batas geografis.

Dua dekade lebih berlalu, dan kini D’MASIV siap melangkah lebih jauh. Di tahun 2023, saat tepat dua dekade usia mereka, D’Masiv sempat menggelar tur di Amerika dan Eropa. Tahun 2025 jadi panggung baru bagi mereka. MUSEXPO di Los Angeles memanggil. Bukan sekadar showcase, tapi sebuah momentum untuk membuktikan bahwa musik mereka bisa menembus batas geografis.

Pada 12–20 Maret 2025, mereka akan Kembali terbang ke LA, bukan hanya untuk tampil, tapi juga untuk berburu produser baru setelah resmi berpisah dari Musica Studio’s. Ini bukan perpisahan tragis ala kisah-kisah band klasik, melainkan sebuah pernyataan: mereka siap berlayar lebih jauh, dengan atau tanpa label lama di belakang mereka.

Dan itu bukan satu-satunya tujuan mereka. Singapura pun masuk dalam radar. 16 Mei 2025, The Star Theatre, sebuah panggung yang akan menjadi bagian dari tur “II DEKAD” mereka.

Dari gang kecil di Ciledug hingga panggung dunia, D’MASIV membuktikan satu hal: kerja keras dan ketekunan bisa membawa siapa saja dari titik nol ke panggung megah. Dan tahun 2025, mereka datang untuk menancapkan bendera, untuk menunjukkan bahwa musik Indonesia bisa berbicara di panggung global, dan D’MASIV ada di garis depan pertempuran itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *