“ALTER EGO”: Megah, Liar, tapi Masih Mencari Jati Diri
Lisa ingin menghancurkan tembok yang menahannya di dunia BLACKPINK, dan “ALTER EGO” adalah peluru kendali yang ia tembakkan ke atmosfer pop.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Masalahnya, setelah ledakan pertama yang megah, kita sadar kalau rudal ini nggak tahu mau jatuh ke mana. Album ini adalah pesta besar dengan neon berkedip-kedip, tamu VIP dari berbagai belahan dunia, dan dentuman bass yang bisa mengguncang stadion. Tapi ketika lampu padam dan confetti meletus, kesan yang muncul adalah apakah kita mendengarkan album Lisa atau radio Top 40 dengan budget tak terbatas?
Dari detik pertama, Lisa sudah menarik kita ke dunia glamor yang penuh sikap, lewat “Born Again“, sebuah balada yang tiba-tiba nyelonong jadi disco fever tanpa aba-aba. Ini Lisa yang paham cara bikin grand entrance, tapi juga Lisa yang masih nyari arah. “BADGRRRL” bisa jadi anthem klub tahun ini, tapi juga terasa kayak reject file dari album Megan Thee Stallion yang kebetulan nyasar ke studio YG. Lagu ini keras, tajam, dan brengsek dengan cara yang benar, tapi tetap saja—rasanya seperti sebuah Dejavu.
Lalu parade kolaborasi mulai datang. Rosalía, Doja Cat, Tyla, Future, Megan Thee Stallion. ini bukan album, ini festival. Dan tahukah kamu apa yang aneh? Lisa sering kali jadi tamu di pestanya sendiri. “Fxck Up The World” bareng Future harusnya jadi banger generasi, tapi malah terdengar seperti Lisa yang coba nge-rap di trek yang sudah dikuasai Future dari awal.
Jangan salah, di beberapa momen Lisa bersinar brutal. “Rapunzel” adalah Lisa yang akhirnya terlepas dari rantai idol-nya: rap beracun, attitude yang nendang, beat yang mengajak kita naik mobil sport dan nginjak gas sampai batas kecepatan ilegal.
Tapi ya, ada juga momen di mana album ini kayak mixtape yang terlalu lama diutak-atik label. “Moonlit Floor (Kiss Me)” nge-mix Britney Spears era Toxic dengan synth ala Daft Punk, tapi ujung-ujungnya malah terdengar kayak tribute-nya orang lain terhadap Lisa, bukan lagu Lisa sendiri. Dan “Lifestyle“? Oke, lo kaya, lo punya pesawat jet, lo minum champagne di LA, terus?
Pada akhirnya, “ALTER EGO” bukanlah album yang buruk. Ini debut yang mewah, spektakuler, dan penuh ambisi. Tapi ambisi tanpa arah cuma bikin kita capek sendiri. Lisa masih mencari identitasnya, dan di album ini, dia terlalu sibuk mencoba jadi semua orang sekaligus. Kalau album berikutnya bisa lebih fokus, dunia harus siap-siap ketemu Lisa versi tanpa filter.
Untuk sekarang? 7/10, deh!


