Kenapa Kamu Harus Mendengarkan Potret?

Mau berbicara tentang musik Indonesia tahun 90-an tapi nggak tahu Potret? Kasihan sekali telinga kamu!

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Di tengah gempuran lagu cinta generik yang diproduksi bak mie instan di pabrik, Potret datang layaknya tamparan keras di wajah orang-orang yang sudah terlalu nyaman mendengarkan musik tanpa keberanian. Mereka bukan sekadar band; mereka adalah eksperimen gila yang (kadang) terlalu cerdas untuk industri musik yang lebih suka main aman.

Melly Goeslaw dan Anto Hoed bukan hanya pasangan produser yang mencetak lagu-lagu soundtrack  film laris. Sebelum semua itu, mereka melahirkan Potret, sebuah proyek musikal yang terlalu liar untuk dikotakkan dan terlalu nyeleneh untuk dianggap biasa.

Dengar “Salah” sekali saja, dan kamu tahu ini bukan sekadar lagu pop. Ini adalah pemberontakan dalam bentuk melodi. “Mak Comblang”? Itu bukan hanya lagu, tapi sindiran tajam untuk industri musik yang terlalu sibuk menjual cerita cinta klise.

Potret nggak peduli dengan norma. Mereka menulis lagu tentang emosi manusia dengan lirik yang jujur, kadang sinis, kadang lucu, tapi selalu penuh keberanian.

Dan buat kamu yang masih pura-pura nggak tahu Potret, coba pikir lagi. “Bunda” yang setiap tahun membuat orang menangis di Hari Ibu? Itu lagu Potret sebelum akhirnya menjadi solo hit Melly. Kalau kamu hanya mengenal Melly dari lagu-lagu pop mendayu-dayu yang dia buat setelahnya, berarti kamu belum benar-benar mengenal sisi liar dan kejeniusannya sebelum industri menjinakkan dia.

Dampak Potret ke musik Indonesia? Seismik! Mereka membuktikan bahwa musik pop tidak harus terdengar klise untuk bisa diterima. Mereka membuka jalan bagi musisi yang ingin bermain di luar batasan genre, yang ingin menulis lagu dengan cara yang lebih cerdas dan berani. Tanpa Potret, mungkin kita tidak akan punya banyak musisi yang berani mengambil risiko dalam berkarya.

Tidak suka Potret? Itu urusan kamu. Tapi kalau kamu bilang mereka tidak penting, itu seperti berkata Velvet Underground tidak berpengaruh ke rock ‘n roll atau Miles Davis tidak merevolusi jazz. Kamu bisa menghindar dari mereka, tapi jejak mereka dalam musik Indonesia akan terus ada, selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *