Ikon itu Bernama Dewa 19
Dewa 19 adalah alkimia rock, pop, dan jazz yang meledak dari kamar-kamar sempit anak muda Surabaya, menjelma jadi ikon tak terbantahkan di panggung musik Indonesia.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Empat album pertama band asal Surabaya ini adalah cetak biru kegilaan musik yang menggabungkan kejeniusan komposisi dan lirik yang merayap ke relung jiwa.
Dewa 19 (1992) meledakkan “Kangen” ke udara, sebuah balada rindu yang bukan cuma memecahkan radio tetapi juga menancapkan luka di dada generasi yang masih belajar mencintai. Dua tahun kemudian, “Format Masa Depan” (1994) hadir sebagai bukti bahwa mereka bukan one-hit wonder. “Aku Milikmu” menjelma menjadi obsesi massal, lagu yang membuat siapa pun teringat kembali pada cinta pertama mereka yang nggak pernah benar-benar selesai.
Namun “Terbaik Terbaik” (1995) adalah titik balik. Ini bukan lagi sekadar album, tapi deklarasi perang terhadap standar musik pop saat itu. “Cukup Siti Nurbaya” datang seperti hantaman riff yang nggak memberi ampun. Liriknya lebih tajam dari pisau silet dan attitude yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang tahu bahwa mereka akan bertahan selamanya.
Dua tahun kemudian, “Pandawa Lima” (1997) melengkapi era kejayaan awal mereka. “Kirana” membuktikan bahwa Dewa 19 bukan hanya band yang menulis lagu cinta, tetapi arsitek sonik yang bisa menciptakan soundtrack kemenangan bagi siapa pun yang berani bermimpi besar.
Ketika akhirnya “Bintang Lima” dirilis pada tahun 2000, Dewa 19 sudah lebih dari sekadar band. Mereka adalah institusi.
Album ini tidak hanya mencapai penjualan fantastis, tetapi juga menampilkan evolusi musikal mereka yang lebih matang dan eksperimental. “Roman Picisan” dan “Risalah Hati” bukan sekadar lagu. Ini adalah pengalaman spiritual. Doa-doa yang diteriakkan dari ribuan tenggorokan di stadion yang penuh sesak.
Nggak berhenti di situ. “Republik Cinta” (2006) membawa Dewa 19 ke ranah eksplorasi yang lebih luas, menyentuh berbagai genre tanpa kehilangan identitas. Mereka bukan sekadar mengikuti tren; mereka menciptakannya. Dan di tahun 2025, mereka membuktikan bahwa mereka masih relevan dengan menggelar konser kolosal bersama musisi rock dunia seperti Derek Sherinian, Dino Jelusick, Jeff Scott Soto, dan Phil X. Ini bukan comeback—karena Dewa 19 tidak pernah benar-benar pergi.
Hampir empat dekade sejak pertama kali terbentuk, Dewa 19 tetaplah raksasa yang tak tergoyahkan. Kegemilangan mereka bukan sekadar mitos, tetapi hasil dari eksplorasi tanpa batas, keberanian melawan arus, dan semangat yang tak pernah pudar. Mereka bukan hanya menciptakan musik, mereka menciptakan sejarah.

