“MICKEY 17″: Sci Fi Cerdas yang Overthinking

Bong Joon Ho kembali, dan kali ini dia membawa Robert Pattinson ke dalam eksperimen sci-fi yang terasa seperti gabungan “Groundhog Day“, “Blade Runner,” dan kecemasan kapitalisme abad ke-21.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Mickey Barnes, sang tokoh utama, adalah pekerja sekali pakai di planet jauh. Setiap kali dia mati, tubuh baru dengan ingatan lamanya dicetak ulang, siap dikirim lagi ke misi berbahaya berikutnya.

Ini premis yang brilian, dengan potensi besar untuk menyelidiki pertanyaan tentang identitas, nilai manusia, dan absurditas sistem yang memperlakukan eksistensi sebagai komoditas. Sayangnya, yang kita dapat bukanlah pertunjukan surealis yang tajam seperti “Snowpiercer” atau kekacauan emosional ala “Parasite“, melainkan sesuatu yang terasa setengah matang.

Pattinson bermain dengan gaya deadpan khasnya, membawa pesona sarkastik yang membuat Mickey tampak seperti orang yang sudah terlalu sering menghadapi kematian dan kini hanya menganggapnya sebagai bagian dari rutinitas kerja. Visualnya menakjubkan, penuh dengan lanskap luar angkasa yang muram dan teknologi yang terasa fungsional daripada sekadar estetis.

Humor gelap sesekali muncul, mengingatkan kita bahwa Bong masih tahu cara menertawakan keputusasaan manusia. Tapi kemudian, film ini mulai berputar-putar di tempat yang sama. Ia ingin menjadi banyak hal sekaligus: sindiran sosial, thriller eksistensial, petualangan sci-fi penuh aksi. Sayangnya, di akhir malah tersandung oleh ambisinya sendiri.

Bukan berarti film ini buruk. Ada momen-momen cerdas yang mengangkatnya di atas sci-fi generik, tetapi narasinya yang terlalu banyak penjelasan dan subplot yang tidak semuanya perlu membuatnya kehilangan momentum. Beberapa bagian terasa seperti seseorang yang terlalu banyak membaca teori filsafat lalu mencoba memasukkannya ke dalam satu percakapan, berharap terdengar brilian tapi malah terdengar melelahkan. Jujur, ada daya tarik dalam keanehannya, tapi tidak cukup untuk membuatnya benar-benar memukau.

Bong adalah sutradara yang brilian, dan Mickey 17 adalah bukti bahwa bahkan orang paling berbakat pun bisa menghasilkan karya yang lebih menarik dalam konsep daripada eksekusi. Film ini bukan kegagalan total, tapi juga bukan mahakarya. Ini seperti novel sci-fi keren yang direkomendasikan temanmu, tapi saat kamu membacanya, kamu sadar setengah jalan bahwa kamu lebih menikmati pembicaraan tentangnya daripada pengalaman membacanya sendiri.

SKOR: 7/10 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *