“MONKEY MAN” : Dev Patel Bebas dan Berulah
Siapa yang berpikir Dev Patel bakal selamanya jadi cowok lugu dari Slumdog Millionaire? Lupakan. Yang ada di sini bukan Dev Patel yang kita kenal.
Oleh : JUNIOR EKA PUTRO

Yang ada di “Monkey Man” bukan Dev Patel yang kita kenal. Ini Dev Patel yang berlumuran darah. Matanya penuh dendam dan tangannya nggak berhenti menghajar siapa pun yang menghalangi jalannya. “Monkey Man” adalah ledakan. Ini bukan film, melainkan amarah yang direkam kamera.
Dari detik pertama, film ini nggak kasih kita kesempatan buat napas. Patel nge-direct film ini seakan dia telah menahan kemarahan seumur hidup dan akhirnya dilepas dalam bentuk seni yang brutal.
Kamera lincah, hand-to-hand combat yang terasa nyata. Bisa terdengar tulang patah dan darah muncrat. Kalau suka “The Raid“, kalau ngefans sama “John Wick“, atau pernah nonton “Oldboy” dan berikir, “mau yang lebih liar,” film ini jawabannya!
Tapi jangan salah, selain kekerasan, Patel masukin banyak amunisi di sini. Ada kritik sosial, spiritualitas, bahkan mitologi India.
Ini bukan film aksi kosong. FIlm ini punya ruh, punya nyawa, punya makna yang lebih dalam dari sekadar baku hantam.
Tapi ya, itu juga jadi sedikit masalahnya. Ada momen-momen di mana film ini coba masuk terlalu dalam ke narasi spiritualnya, dan ritmenya jadi sedikit pincang. Tapi siapa peduli? Toh kita nggak nonton ini buat cari cerita paling orisinal, melainkan buat ngerasain adrenalin terpompa. Buat melihat seorang manusia berubah jadi binatang dan menggigit balik dunia yang udah menindasnya terlalu lama.
Yang pasti, “Monkey Man” bukan film untuk semua orang. Ini film buat mereka yang siap ditampar, diguncang, dan dilempar ke dalam neraka yang panasnya terasa sampai ke kursi bioskop. Dev Patel datang bukan buat basa-basi. Dia datang buat ngasih tahu dunia: dia bukan lagi aktor cilik, dia adalah binatang buas di industri ini.
Skor? 8/10. Tapi skor nggak penting. Ini bukan soal angka. Ini soal rasa. Dan film ini kamu bakal merasakannya!

